Minggu, 10 Mei 2009

pre Eklampsi

Pre Eklamsia

a. Definisi

Perkataan ”eklampsi” berasal dari Yunani yang berarti ”halilintar” karena gejala eklampsi datang dengan mendadak dan menyebabkan suasana gawat dalam dalam kebidanan. Dikemukan beberapa teori yang dapat menerangkan kejadian pre eklampsi dan eklampsi sehingga menetapkan upaya promotif dan preventif.

Pre eklampsi merupakan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias: hipertensi, proteinuri dan oedema. Yang kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma. Ibu tersebut tidak menunjukan tanda-tanda kelainan-kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya.

b. Etiologi

Apa yang menjadi pre eklampsi sampai sekarang belum diketahui. Telah terdapat banyak teori yang mencoba menerangkan sebab penyakit tersebut, akan tetapi tidak ada yang dapat memberi jawabab yang memuaskan. Teori yang dapat diterima harus dapat menerangkan:

1. Sebab bertambahnya frekuensi pada primi graviditas, kehamilan ganda, hidramnion, dan mola hidatitosa.

2. Sebab bertambahnya frekuensi dengan makin tuanya kehamilan.

3. Sebab dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin dalam uterus.

4. Sebab jarangnya terjadi eklampsi pada kehamilan berikutnya

5. Sebab timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang dan koma.

Teori yang dewasa ini banyak dikemukakan sebagai sebab pre eklamsi adalah iskemia plasenta. Akan tetapi, dengan teori ini tidak dapat diterangkan semua hal yang berkaitan dengan penyakit itu. Rupanya tidak hanya satu faktor, melainkan banyak faktor yang menyebabkan pre-eklampsi. Diantara faktor-faktor yang ditemkan sering kali sukar ditemukan mana yang sebab dan mana yang akibat.

Teori iskemia implantasi plasenta dianggap dapat menerangkan berbagai gelaja pre eklampsi dan eklampsi:

1. kenaikan tekanan darah

2. pengeluaran protein dalam urin

3. edema kaki, tangan sampai muka.

4. terjadinya gejala subjekfif : sakit kepala, penglihatan kabur, nyeri pada epigastrium, sesak nafas, berkurangnya urin.

5. menurunnya kesadaran wanita hamil sampai koma, terjadi kejang.

c. Tanda dan gejala

1. sakit kepala terutama daerah frontalis

2. rasa nyeri didaerah epigastrium

3. gangguan mata, pemglihatan menjadi kabur

4. terdapat mual sampai muntah

5. gangguan pernapasan sampai sianosis

6. terjadi gangguan kesadaran

Bila salah satu diantara gejala atau tanda diketemukan pada ibu hamil sudah dapat digolongkan pre eklampsi berat. Tanda dan gejala:

1. tekanan darah 160/110 mmHg

2. olugouria urin kurang dari 400/500 cc/24jam

3. proteinuria 3-5 gr per liter atau lebih

4. keluhan subyektif:

    • nyeri epigastrium
    • gangguan penglihatan
    • nyeri kepala
    • edema paru dan sianosis
    • gangguan kesadaran

5. pemeriksaan:

    • kadar emzim hati meningkat disertai ikterus
    • perdarahan pada retina
    • trombosit kurang dari 100.000/mm

d. Patofisiologi

Pada pre eklampsi terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spame hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi, jika semua artariola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi.

Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intertisial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus. (Mochtar, 2002).

e. Perubahan pada organ-organ :

a. Otak

Pada pre-eklampsia aliran darah dan pemakaian oksigen tetap dalam batas-batas normal. Pada eklampsi, resistensi pembuluh darah meninggi, ini terjadi pula pada pembuluh darh otak. Edema yang terjadi pada otak dapat menimbulkan kelainan serebral dan gangguan fisus, bahkan pada keadaan lanjut dapat terjadi perdarahan.

b. Plasenta dan rahim

Aliran darah menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan placenta, sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin. Pada pre-eklampsi dan eklampsi sering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaannya terhadap rangsang, sehingga terjadi partus prematurus

c. Ginjal

Filtrasi glomerlus berkurang oleh karena aliran ke ginjal menurun. Halini menyebabkan filtrasi natrium melalui glomerulus menurun, sebagai akibatnya terjadilah retensi garam dan air. Filtrasi glomerulus dapat turun sampai 50 % dari normal sehingga pada keadaan lanjut dapat terjadi oliguria dan anuria.

d. Paru-paru

Kematian ibu pada pre-eklampsi dan ekllampsi biasanya di sebabkan oleh edeme paru yang menimbulkan dekompensasi kordis. Bisa pula karena terjadinya aspirasi pnemonia, atau abses paru.

e. Mata

Dapat di jumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. Bila terdapat hal-hal tersebut, maka harus di curigai terjadinya pre-eklamsi berat. Pada eklamsi dapat terjadi ablasio retina yangdi sebabkan edema intra okuler dan merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan. Gejala lain yang dapat menunjukan tanda pre-eklamsi berat yang mengarah pada eklampsi adalah adanya skotoma, diplopia, dan ambliopia. Hal ini di sebabkan oleh adanya perubahan darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri atau di dalam retina.

f. Keseimbangan air dan elektrolit

Pada pre-eklampsi berat dan eklampsi kadar gula darah naik sementara, asam laktat dan asam organik lainnya naik, sehingga cadangan alkali akan turun. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh kejang-kejang. Setelah konvulsi selesai zat – zat organik di oksidasi, dan di lepaskan natrium yang lalu bereaksi dengan karbonik sehingga terbentuk natrium bikarbonat. Dengan demikian cadangan alkali dapat kembali pulih normal.

g. Penatalaksanaan

1. Pencegahan pre eklampsi

Untuk mencegah kejadian pre eklampsi dapat dilakukan nasehat dan berkaitan dengan:

· Diet-makanan

Makanan tinggi protein, tinggi karbohidrat, cukup vitamin dan rendah lemak. Kurangi garam apabila berat badan bertambah atau edema. Makanan berorientasi pada empat sehat lima sempurna. Untuk meningkatkan jumlah protein dengan tambahan satu butir telur setiap hari

· Cukup istirahat

Istirahat yang cukup pada hamil yang semakin tua dalam arti bekerja seperlunya dan disesuaikan dengan kemampuan. Lebih banyak duduk atau berbaring ke arah punggung janin sehingga aliran darah menuju plasenta tidak mengalami gangguan.

· Pengawasan antenatal (hamil)

Bila terjadi perubahan perasaan dan gerak janin dalam rahim segera datang ke tempat pemeriksaan. Keadaan yang memerlukan perhatian:

a. uji kemungkinan pre eklampsi:

o pemeriksaan tekanan darah atau kenaikannya

o pemeriksaan tinggi fundus uteri

o pemeriksaan kenaikan berat badan atau edem

o pemeriksaan protein dalam urin

o kalau mungkin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati, gambaran darah umum, pemeriksaan retina mata.

b. penilaian kondisi janin dalam rahim

o pemantauan tinggi fundus uteri

o pemeriksaan janin: gerakan janin dalam rahim, denyut jantung janin, pemantuan air ketuban

o usulkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi

2. Penanganan pre eklampsi

Penanganan ini bertujuan untuk menghindari kelanjutan menjadi eklampsia dan pertolongan kebidanan dengan melahirkan janin dalam keadaan akan ptimal dan bentuk pertolongan dengan trauma minimal.

Bidan yang mempunyai polindes dapat merawat penderita pre-eklamsia berat untuk sementara, sampai menunggu kesempatan melakukan rujukan sehingga penderita mendapatkan pertolongan yang sebaik-baiknya.

Penderita di usahakan agar :

1. terisolasi sehingga tidak mendapat rangsangan suara ataupun sinar.

2. Di pasang infus glukosa 5 %

3. Dilakukan pemeriksaan :

- Pemeriksaan umum : pemeriksaan tekanan darah, nadi, suhu, dan pernafasan.

- Pemeriksaan kebidanan : pemeriksaan leopold, denyut jantung janin, pemeriksaan dalam ( evaluasi pembukaan dan keadaan janin dalam rahim).

- Pemasangan daurer kateter

- Evaluasi keseimbangan cairan

4. Pengobatan

Upaya pengobatan ditujukan untuk mencegah kejang, pemulihan organ vital dalam keadaan normal, dan melahirkan bayi dalam trauma sekecil-kecilnya pada ibu dan bayi. Adapun pengobatan yang dilakukan adalah:

- Sedativa : phenobarbital 3 x 100 mgr, valium 3 x 20 mgr.

- Menghindari kejang

a. Magnesium sulfat.

- Berikan MgSO4 dalam infus dekstrosa 5% dengan kecepatan 15-20 tetes per menit. Dosis awal MgSO4, 2g IV dalam 10 menit selanjutnya 2g/jam dalam drip infus sampai tekanan darah stabil ( 140-50/90-100 mmHg). Hal ini diberikan selama 6 jam pascapersalinan atau bila ada tanda-tanda intoksikasi.

- Inisial dosis 8 gr im, dosis ikutan 4 gr/6 jam

- Observasi : pernafasan tidak kurang16 menit, reflek patela positif, urin tidak kurang dari 600 cc / 24 jam.

b. Valium

- Inisial dosis 20 mgr iv, dosis ikutan 20 mgr/drip 20 tetes/menit.

- Dosis maksimal 120 mgr/24 jam.

c. Kombinasi obat

- Pethidine 50 mgr im,

- Clorpromazine 50 mgr im

- Diazepam (valium) 20mgr im

d. Bila terjadi oliguria diberikan glukosa 40% iv untuk menarik cairan dari jaringan, sehingga dapat merangsang diuresis

e. Penanganan konservatif bila kehamilan <32 minggu tanpa disertai tanda-tanda

5. Setelah keadaan pre-eklamsi berat dapat di atasi, pertimbangan mengakhiri kehamilan berdasarkan :

a. Kehamilan cukup bulan.

b. Mempertahankan kehamilan sampai mendekati cukup bulan

c. Kegagalan pengobatan pre-eklampsia berat kehamilan di akhiri tanpa memandang umur.

d. Merujuk penderita kerumah sakit untuk pendekatan yang adekuat. Megakhiri kehamilan merupakan pengobatan utama untuk memutuskan kelanjutan pre-eklampsia menjadi eklampsia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar