Acute Limfositik Leukimia
A. Definisi
Acute Limfositik Leukemi (ALL) merupakan suatu proliferasiganas limfoblas. Penyakit ini paling sering terjadi pada anak-anak dengan perbandingan anak laki-laki lebih banyak daripada wanita. Puncak insiden yaitu pada usia 4 tahun, setelah usia 15 tahun Acute Limfositik Leukemi (ALL) jarang terjadi.
B. Etiologi
Secara pasti penyakit ini belum diketahui apa penyebab secara spesifik. Tetapi karena penyakit ini tergolong kanker di dunia kedokteran maka zat karzinogenik dan virus onkogenik dapat memicu timbulnya penyakit ini. Kita ketahui bersama bahwa kita lahir dengan masing-masing di dalam tubuh kita membawa sel-sel kanker juga. Sel-sel ini dapat muncul disebabkan beberapa hal seperti : personal higience yang buruk, nutrisi yang kurang baik, pola hidup dan perilaku yang tidak sehat, terpapar oleh radiasi sinar UV, dan lain sebagainya.
C. Patofisiologi
Limfosit imatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan periferdan mengganggu perkembangan sel normal. Akibatnya, hematopoesis normal terhambat, mengakibatkan penurunan jumlah leukosit, sel darah merah dan trombosit. Eritrosit dan trombosit jumlahnya rendah dn leukosit jumlahnya dapat rendah atau tinggi tetapi selalu terdapat sel imatur.
E. Manifestasi klinis
o Leukosit yang labil : kadang didapat dalam jumlah yang tinggi dan kadang rendah
o Eritrosit dan trombosit menurun
o Nyeri yang disebabkan oleh hepatomegali, splenomegali, dan limfadenopati
o Sakit kepala
o Muntah yang disebabkan oleh keterlibatan meninges
o Nyeri tulang
o Berat badan menurun
F. Penatalaksanaan
1. Medis
a. Kemoterapi
o Terapi awal : obat sitostatika dikombinasi dengan vincristine, prednisone,daunorubicin, dan asparaginase
o Untuk pemeliharaan, dilanjutkan dengan kombinasi mercraptopurine, methotrexate, vincristine dan prednisone
o Radiasi untuk daerah craniospinal dan injeksi intratekal dari sitostatika dapat mencegah kekambuhan pada susunan saraf pusat (SSP).
b. Tranfusi darah
Biasanya dilakukan bila kadar Hb kurang dari 6 g%. Pada trombositopenia yang berat dan perdarahan masif dapat diberikan tanfusi trombosit, dan bila terjadi tanda-tanda DIC dapat diberikan heparin.
c. Infeksi sekunder dihindarkan. Bila memungkinkan penderita diisolasi dalam ruangan yang steril.
d. Immunoterapi
Merupakan cara pengobatan terbaru. Setelah tercapai remisi dan jumlah sel leukemia cukup rendah (105-106) immunoterapi mulai diberikan. Pengobatan yang aspesifik dilakukan dengan pemberian imunisasi BCG atau dengan Corynae bacterium yang dimaksudkan akan terbentuk antibodi yang dapat memperkuat daya tahan tubuh. Pengobatan spesifik dapat dikerjakan dengan penyuntikan sel leukimia yang sudah diradiasi. Dengan cara ini diharapkan akan terbentuk antibodi yang spesifik terhadap sel leukemia sehingga sel pathologis akan dihancurkan.
2. Penatalaksanaan keperawatan (Askep)
1. Pengkajian
o Riwayat kesehatan dapat menunjukkan rentang tanda dan gejala yang dikeluhkan pasien.
o Pemeriksaan fisik : kelemahan, kelelahan, kecenderungan perdarahan, petekia dan ekimosis, nyeri, sakit kepala, muntah, demam dan infeksi.
o Pemeriksaan darah tepi : perubahan sel darah putih (leukositosis atau leukositopenia), anemia, trombositopenia.
o Pemeriksaan sumsum tulang : didominasi oleh sel blas
o Biopsi limfa : akan terlihat proliferasi sel leukemia dan sel dari jaringan limfa akan terdesak (limfosit normal, RES, granulosit, pulp cell).
o Kimia darah : kolesterol mungkin rendah, asam urat meningkat, dan hipogamaglobulinemia.
o Cairan serebrospinalis : peningkatan sel pathilogis dan protein. Jika ini terjadi maka disebut leukamia meningeal.
o Sitogenetik :
- Kelainan kromosom : diploid (2n), haploid (2n-a), hiperploid (2n+a)
- Kariotipe
- Bertambah atau berkurangnya bagian kromosom
- Marker kromosom : adanya kromosom yang tidak normal.
2. Diagnosa keperawatan
1). Nyeri akut b/d infiltrasi leukosit jaringan sistemik, pembesaran hati,limfodenopati.
2). Ketidaseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b/d perubahan proliferasi gastrointestinal dan efek tiksik obat kemoterapi
3). Intoleransi aktivitas b/d kelemahan, anemia.
4). Berduka b/d perubahan peran fungsi
5). Kerusakan integritas kulit : alopesia b/d efek toksik kemoterapi
6). Gangguan gambaran diri ( gangguan citra tubuh) b/d perubahan penampilan dalam fungsi dan peran
7). Hipertermi b/d penyakit infeksi (penurunan leukosit)
8). Risiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit b/d dehidrasi, vomit, dan perdarahan.
3. Intervensi
1. Nyeri akut
Kriteria hasil :
- Mengenali faktor penyebab
- Menggunakan metode pencegahan
- Menggunakan metode pencegahan non-analgetik untuk mengurangi rasa nyeri
- Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan
Intervensi :
- Kaji secara secara konfrehensif tentang nyeri
- Observasi isyarat-isyarat non-verbal dari ketidaknyamanan
- Gunakan komunikasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan diri
- Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mepengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan
- Berikan informasi tentang nyeri
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik
2. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
Kriteria hasil :
- Stamina meningkat
- Tenaga meningkat
- Daya tahan tubuh dan pertumbuhan baik
Intervensi :
- Kaji adanya alergi makanan
- Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
- Berikan makanan yang terpilih setelah dikonsultasikan dengan ahli gizi
- Berikan kalori tentang kebutuhan nutrisi
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien
- Tingkatkan intake Fe protein dan vitamin C
3. Intoleransi aktivitas
Kriteri hasil :
- Istirahat dan aktivitas seimbang
- Memelihara nutrisi yang adekuat
- Persediaan energi cukup untuk beraktivitas
Intervensi :
- Menentukan penyebab intoleransi aktivitas (fisik, psikologis, motivasional)
- Berikan periode aktivitas selama beraktivitas
- Minimalkan kerja kardiovaskuler dengan memberikan posisi dari tidur ke posisi setengah duduk
- Jika memungkinkan tingkatkan aktivitas secara bertahap (dari duduk, jalan, aktivitas meksimal)
- Kolaborasi dengan fisioterapi untuk membantu peningkatan level aktivitas
4. Berduka terganggu
Kriteria hasil :
- Mampu mengekspresikan perasaan kehilangan fungsi peran
- Mengungkapkan secara verbal bahwa kehilangan fungsi peran adalah kenyataan
Intervensi :
- Identifikasi kehilangan fungsi peran
- Temani klien untuk mengidentifikasi reaksi awal kehilangan fungsi peran
- Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan kehilangan
- Diskusikan pengalaman kehilangan klien
- Beri dukungan dalam fase dari proses jika perlu
- Temani kilen untuk mengidentifikasi koping individu
- Masukan yang signifikan yang lain dalam diskusi untuk mengambil keputusan
5. Kerusakan integritas kulit : alopesia
Kriteria hasil :
- Perfusi jaringan baik
- Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang
- Mampu mempertahankan kelembaban kulit
- Kerusakan integritas kulit tidak memburuk
Intervensi :
- Jaga kebersikan kulit agar kulit tetap bersih dan lembab
- Oleskan lotion atau baby oil pada kulit
- Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
- Monitor status nutrisi pasien
6. Gangguan gambaran diri (gangguan citra tubuh)
Kriteria hasil :
- Mempraktekkan perilaku sehat
- Terapi aktivitas kelompok
- Mengikuti aturan yang aman
- Mengerti yang benar dan salah
Intervensi :
- Monitor keadaan pasien yang dapat membuat pasien mengubah posisi badan
- Tentukan dengan pasien dan keluarga tentang keadaan tubuhnya yang sesuai dengan realita
- Ajarkan orang tua mengenai respon penting tentang perubahan yang terjadi pada anaknya
- Tentukan keadaan citra tubuh yang menyebabkan meningkatkan isolasi sosial
- Fasilitasi anak untuk kontak dengan individu yang memiliki masalah yang sama
7. Hipertermi
Kriteria hasil :
- Suhu tubuh dalam rentang normal
- Nadi dan RR dalam rentang normal
- Tidak ada perubahan warna kulit dan pusing
Intervensi :
- Monitor suhu sesering mungkin
- Monitor IWL ( Insessible Water Loss)
- Monitor warna dan suhu kulit
- Monitor penurunan dan tingkat kesadaran
- Kompres pasien dengan air hangat pada lipat paha dan aksila
- Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil
8. Risiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
Kriteria hasil :
- Turgor kulit baik
- Jumlah trombosit dan Hb meningakat
- TTV dalam normal
- Produksi urine 30-50 cc/jam
Intervensi :
- Observasi warna kulit, membran mukosa, dan turgor kulit
- Observasi vital sign tiap 4-6 jam
- Observasi tanda-tanda syok hipovelemik
- Ukur balance cairan
- Anjurkan pasien untuk banyak minum
- Hindari trauma dan risiko perdarahan
- Kolaborasi dalam pemberian infus dan tranfusi
- Awasi hasil pemeriksaan darah
9. Anemia
Krateria hasil :
- Hb dalam rentang normal
- Suplay oksigen tercukupi
- Konjungtiva tidak anemis
Intervensi :
- Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
- Awasi pemeriksaan darah misalnya hb, Ht, SDM, dan GDA
- Lakukan pemeriksaan laboratorium seperti zat besi dalam darah
- Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian zat besi oral misalnya fero sulfat, ferodextran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar