hemmmm... ngemeng ngemeng masalah insulin... minggu ini aku dapet tugas insulin buat jurnal...lumayan bikin pusing kepala... sedikit menguras tenaga gara gara kudu ganti judul Jurnal beberapa kali... saat kekompakan tak lagi ada saat itulah ku harus slalu kerja ekstra buat kelompok...BTw ya sudahlah yang penting ku bisa jalani....huft ko jadi curhat...yuck bahas insulin....Bagi diabetasi — sebutan bagi penderita diabetes mellitus– mendapat suntikan insulin bak “bencana”...weitz,,, yang merontokkan jiwa dan raga. katanya sich.. Karena, tubuh bergantung pada suntikan insulin sepanjang hidupnya. Bahkan, bagi sebagian besar diabetasi, suntikan insulin dianggap sebagai pertanda bahwa nyawa sudah di ujung badan.
Seperti dikemukakan dokter spesialis endokrinologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM), Ari Fahrial Syam, suntikan insulin selama ini memang diberikan sebagai pilihan terakhir dalam pengobatan diabetes, setelah diet maupun obat-obatan oral tak mampu lagi mengontrol kadar gula darah seorang diabetasi.
“Pengalaman menunjukkan suntikan insulin memang menolong mengontrol kadar gula darah seorang diabetasi dengan cepat,” kata dr Ari Fahrial dalam workshop tentang diabetes, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Namun, kadang banyak dokter tak menyadari jika gula darah diabetasi tak terkontrol dalam waktu lama akan menimbulkan komplikasi yang menyebabkan terjadinya gagal ginjal, kebutaan, stroke, jantung hingga gangguan pada sistem jaringan saraf. Ketakutan pasien akan penggunaan suntikan insulin juga membuat kondisi penyakitnya makin parah.
Karena itu, lanjut dr Ari Fahrial, pentingnya bagi para dokter untuk mempertimbangkan pemberian suntikan insulin lebih awal untuk pasien diabetes, untuk menekan terjadinya kasus komplikasi yang lebih parah.
“Dengan mempertahankan kadar glukosa darah senormal mungkin, kualitas hidup pasien diabetes melitus terbukti meningkat. Untuk itu, Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) setahun terakhir ini gencar mempromosikan “early insulinitation”. Karena pengalaman menunjukkan hal itu bermanfaat dalam mencapai target kadar glukosa darah yang diharapkan,” kata dr Ari Fahrial.
Terkait dengan hal itu, kata dr Ari Fahrial, Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) dan PB Perkeni saat ini tengah menggelar “PAPDI Road Show 2008″ di sejumlah kota-kota besar di Indonesia guna memberi “pencerahan” pada para dokter di daerah seputar informasi terkini tentang insulin dan diabetes melitus. Kegiatan tema ELITE (Eli Lilly Training for Excellence) didukung perusahaan farmasi, PT Eli Lilly Indonesia.
Hal senada dikemukakan dr Pradana Soewondo, SpPD-KEMD. Katanya, road show itu sangat penting, mengingat persentasi penderita diabetes yang menggunakan insulin sangat rendah di Indonesia. Beberapa faktor penyebabnya adalah persepsi pasien yang menganggap insulin sebagai obat sebelum kematian menjelang, mahalnya biaya, serta kurangnya keterampilan dokter sendiri.
“Karena itu, melalui road show ini, ada tiga hal penting yang harus dipahami dokter untuk menerapkan insulin pada pasiennya, yaitu tepat waktu, tepat pasien, dan tepat jenis. Penggunaan insulin yang tepat dapat mengurangi terjadinya komplikasi,” ujarnya.
Intervensi Dini
Dr Fahrial menjelaskan, diabetes mellitus (DM) atau yang dikenal dengan sebutan penyakit kencing manis merupakan suatu sindrom klinis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah, serta mengakibatkan komplikasi pada organ tubuh lain seperti jantung, otak, tungkai bawah, mata, ginjal serta sistem jaringan saraf.
Di antara sejumlah penyebab itu, angka kematian akibat diabetes yang utama adalah penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit pembuluh darah perifer. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa diabetes meningkatkan risiko angka kesakitan dan angka kematian akibat penyakit kardiovaskuler sebesar 2-3 kali lipat.
“Penelitian epidemiologi terkini menunjukkan kecenderungan peningkatan angka insiden maupun prevalensi DM tipe 2 di seluruh dunia. Di Indonesia, WHO memperkirakan kenaikan jumlah pasien dari 8,4 juta pada 2000 menjadi 21,3 juta pada 2030. Penelitian di daerah sub-urban Depok Jakarta pada 2001 memperlihatkan prevalensi diabetes sebesar 12,8 persen,” katanya.
Dijelaskan, tujuan pengelolaan diabetes secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes dengan mencegah terjadinya komplikasi. Ada empat pilar pengelolaan diabetes yaitu edukasi, terapi gizi medis, latihan jasmani serta intervensi farmakologis.
“Keempat pilar tersebut berjalan bersamaan demi optimalisasi pengelolaan diabetes. Insulin sebagai salah satu intervensi farmakologis memiliki peranan penting sebagai penunjang kehidupan bagi penyandang diabetes,” ujar dr Ari Fahrial.
Menurut kepustakaan di Barat, ia menambahkan, diperkirakan 27 persen penyandang diabetes tipe 2 menggunakan insulin. Persentase tersebut jauh lebih kecil di Indonesia. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya angka tersebut, yaitu persepsi pasien terhadap insulin yang salah, mahalnya biaya yang dikeluarkan, serta kurangnya keterampilan dokter itu sendiri.
“Secara ringkas terdapat tiga hal penting yang harus dipahami dokter untuk menerapkan insulin pada pasien-pasiennya, yaitu tepat waktu, tepat pasien dan tepat jenis.
Dijelaskan, pada penyandang diabetes tipe 1, sel beta pankreas tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah cukup, sehingga memerlukan insulin eksogen untuk kelangsungan hidupnya. Insulin diberikan sejak awal diagnosis DM tipe 1 ditegakkan.
Sebaliknya, penyandang DM tipe 2 untuk bertahan hidup pada awalnya tidak tergantung pada insulin eksogen. Hal itu disebabkan masih adanya produksi insulin dari dalam tubuh sendiri, meski jumlah atau kerjanya tidak mencukupi.
“Namun, dengan berjalannya waktu, sebagian individu dengan DM tipe 2 akan mengalami penurunan produksi insulin, sehingga pada akhirnya memerlukan insulin eksogen. Insulin dapat diberikan secara sendiri atau bersama-sama dengan obat-obatan yang telah diberikan sebelumnya,” tuturnya.
Karena itu, dr Ari Fahrial menilai, insulin relatif penting sebagai terapi utama bagi pasien-pasien tertentu. Beberapa kondisi yang membuat dokter perlu memberikan insulin kepada pasien, antara lain, untuk penurunan berat badan yang cepat, untuk pasien dengan kondisi hiperglikemia berat yang disertai ketosis (kadar gula darah yang tinggi disertai pembentukan benda keton).
Selain itu, insulin juga diberikan kepada pasien dengan kondisi ketoasidosis diabetik (kadar gula darah yang tinggi disertai dengan produksi keton dan peningkatan keasaman di dalam darah). Pasien yang gagal memakai kombinasi obat-obatan penurun gula darah dengan dosis hampir maksimal.
“Insulin juga penting untuk penyandang diabetes yang menderita stress berat akibatinfeksi sistemik, operasi besar dan serangan jantung, stroke. Begitupun untuk ibu yang selama masa kehamilan, penyakit diabetesnya tidak terkendali dengan perencanaan makan saja. Pada pasien dengan gangguan pada fungsi ginjal atau hati yang berat dan kontraindikasi atau alergi terhadap obat penurun gula darah,” paparnya. Dr Ari mengatakan, saat ini terdapat berbagai macam jenis insulin yang memiliki perbedaan dalam mula kerja, lama kerja serta kekerapan penyuntikannya. Beberapa contoh jenis insulin yang ada di pasaran saat ini, insulin kerja sangat cepat — mulai bekerja dalam beberapa menit setelah penyuntikan dengan lama kerja 4-5 jam.
Insulin kerja pendek mulai bekerja 30-60 menit setelah penyuntikan, dengan lama bekerja efektif 3-6 jam dan insulin kerja menengah yang bekerja cukup lama yaitu 2-4 jam setelah penyuntikan dengan lama kerja efektif 10-16 jam.
“Selain itu, ada insulin kerja panjang yaitu 6-10 jam setelah penyuntikan dengan lama kerja 18-24 jam. Dan insulin campuran antara short dan intermediate acting. Insulin jenis itu memiliki awitan yang cepat dan menengah dengan puncak kerja yang ganda,” katanya.
Menurut dr Ari, pemberian insulin eksogen diupayakan semaksimal mungkin menyerupai produksi insulin alamiah pada orang yang sehat. Pola produksi insulin dapat dibedakan dalam 2 jenis yaitu produksi insulin saat tidak makan (basal) dan produksi insulin sesudah makan (prandial).
“Pemilihan jenis-jenis insulin itu bertujuan menyerupai pola sekresi insulin alamiah sebagaimana orang sehat. Insulin tersebut dapat digunakan sendiri atau kombinasi baik bersama dengan obat penurun gula darah atau bersama jenis insulin yang berbeda,” ucapnya.
Tentang produk insulin, General Manager PT Eli Lilly Indonesia, Puspo Sumadi menjelaskan, sejak keberhasilan Frederick Banting, seorang ahli bedah dari Kanada yang dibantu Charles H Best, seorang mahasiswa Ilmu Faal pada 1921 berhasil membuat insulin dari ekstrak pankreas untuk meredakan gejala-gejala diabetes.
Beberapa tahun kemudian, teknologi makin berkembang dengan dihasilkannya produk insulin baru melalui rekayasa genetika dengan mengganti asam amino pada struktur insulin. Struktur baru itu menyebabkan perubahan pada karakteristik absorsinya yang disebut insulin analog.
“Sekarang ini boleh dibilang insulin sudah lebih baik dan bahan-bahannya juga dijamin halal karena tidak lagi menggunakan pankreas hewan melainkan bahan tumbuhan melalui rekayasa genetika,” kata Puspo Sumadi menegaskan. (Tri Wahyuni)...
tu tadi sedikit pembahasan sedikit..semoga bermanfaat dan semoga seminar besuk berjalan lancar..amien...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar