SKIZOFRENIA
a. Definisi Skizofrenia
Skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala.
Sebelum Kraepelin (1856-1926) tidak ada kesatuan pendapat mengenai berbagai gangguan jiwa yang sekarang dikenal dengan skizofrenia.
Kraepelin adalah seorang ahli kedokteran jiwa di kota Munich dan ia mengumpulkan gejala-gejala dan sindroma itu dan menggolaongkannya kedalam satu kesatuan yang dinamakannya demensia prekox.
Menurut Kraepelin pada penyakit ini terjadi kemunduran inteligensi sebelum waktunya; sebab itu dinamakannya dimensia (kemunduran inteligensi) prekox (muda,sebelum waktunya).
b. Etiologi
1. Keturunan
Terjadi terutama pada keluarga-keluaraga yang mempunyai anggota keluarga dengan riwayat skizofrenia, anak-anak kembar satu sel telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri adalah 0,9-1,8%, bagi saudara kandung 7-15%, bagi anak dengan satu orang tua menderita skizofrenia 7-16%, bagi anak dengan kedua orang tua menderita skizofrenia 40-60%, bagi kembar dua sel telur 2-15% dan bagi kembar satu sel telur 61-86%.
2. Endokrin
Dahulu skizofrenia dikira disebabkan oleh suatu gangguan endokrin. Teori ini dikemukakan berhubungan sering timbulnya skizofrenia pada waktu puberitas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium. Tetapi hal ini tidak dapat dibuktikan.
3. Metabolisme
Ada orang yang menyangka bahwa skizofrenia di sebabkan oleh suatu gangguan metabolisme, karena penderita dengan skizofrenia tampak pucat dan sehat. Ujung extremitas agak sianotis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun. Pada penderita dengan stupor karantorik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini tidak di benarkan oleh banyak sarjana. Belakangan ini teori metabolisme mendapat perhatian lagi berhubung dengan memakai obat halusinogonik, seeperti meskalin dan asam lisergik diethilamide (LSD-25). Obat obat ini dapat menimbulkan gejala- gejala yang mirip dengan gejala-gejala skizofrenia, tetapi reversibel. Mungkin skizofrenia di sebabkan oleh suatu ”inborn error of metabolism”, tetapi hubungan terakhir belum di temukan.
4. Susunan Saraf Pusat
Ada yang mencari penyebab skizofrenia ke arah kelainan susunan saraf pusat, yaiyu pada diensifalon atau korrek otak. Tetapi kelainan patologis yang di temukan itu mungkkin di sebabkan oleh perubahan-perubahan posmortem atau meruoakan artefakt pada waktu membuat sediaan.
Teori-teori tersebut di atas ini dapat di masukkan dalam kelompok teori somatogenik, yaitu teori yang mencari penyebab skizofrenia dalam kelainan badaniah. Kelompok teori lain ialah teori psikogenik, yaitu skizofrenia di anggap sebagai suatu gangguan fungsional dan penyebab utama ialah konflik, stres psikologik dan antar manusia yang mengecewakan.
5. Teori Adolf Meyer
Skizofrenia tidak disebabkan oleh suatu penyakit badaniah, sebab dari dahulu sampai sekarang para sarjana tidak menemukan kelainan-kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada susunan saraf pusat. Sebaliknya Meyer mengakui bahwa konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah dapat menyebabkan ksizofrenia. Menurut Meyer skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladapsi. Oleh karena itu timbul suatu disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang itu menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).
6. Teori Sigmund Freud
Teori ini juga termasuk teori psikogenik. Bila kita memakai formula Freud maka pada skizofrenia ditemukan:
- Kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik atau somatik
- Superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yang berkuasa serta terjadi suatu regresi menuju narsisisme
- Kehilangan kapasitas untuk pemindahan (”transferce”) sehingga terapi psikoanalitik tidak terjadi.
7. Eugen Bleuler (1857-1938)
Dalam tahun 1911 Bleuler menganjurkan supaya lebih baik dipakai istilah ”skizofrenia” karena nama ini dengan tepat sekali menonjolkan gejala utama penyakit ini, yaitu jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau diharmoni antara proses berpikir, perasaan dan perbuatan.
8. Kemudian muncul teori lain yang menganggap skizofrenia sebagai suatu sindrom yang disebabkan oleh bermacam-macam sebab, antara lain keturunan, pendidikan yang salahmaladaptif, tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lues otak aterosklerosa otak dan penyakit lain yang belum diketahui.
9. Akhirnya timbul pendapat bahwa penyakit skizofrenia itu suatu gangguan psikosomatik, gejala-gejala pada badan hanya sekunder kerena gangguan dasar yang psikogenik, stsu merupakan manifestasi somatik dari gangguan psikogenik. Tetapi pada skizofrenia justru kerusakan ialah untuk menentukan mana yang primer dan mana yang sekunder, mana yang merupakan penyebab dan hanya akibat saja.
c. Gejala
a Gejala-gejala primer
· Gangguan proses pikiran (bentuk, langkah dan isi pikiran). Pada skizofrenia inti gangguan memang terletak pada proses pikiran, yang terganggu terutama adalah asosiasi. Madang-kadang satu ide Belem selesai diutarakan sudah muncul ide yang lain, atau terdapat pemindahan maksud misalnya maksudnya “tani” tetapi dikatakan “sawah”.
· Gangguan afek emosi. Pada skizofrenia gangguan ini dapat berupa:
v Kedangkalan afek dan emosi (“emocional bluting”) misalnya penderita menjadi acuh tak acuh terhadap hal-hal yang penting untuk dirinya sendiri seperti keadaan keluarganya.
v Parathimi: apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira, pada penderita timbal rasa sedih dan marah.
v Paramimi: penderita merasa senang dan gembira kan tetapi dia menangis.
v Madang-kadang emosi dan afek emosi tidak mempunyai kesatuan, umpama estela membunuh anaknya penderita menangis berhari-hari tetapi mulutnya tertawa.
v Emosi yang berlebih, sehingga terlihat seperti dibuat-buat seperti orang sedang main sandiwara.
v Hilangnya kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik.
v Karena kepribadiannya terpecah-belah maka dua hal yang berlawanan mungkin terdapat bersama-sama.
· Gangguan kemauan: penderita skizofrenia menderita kelemahan kemauan. Mereka tidak hanya mengambil keputusan tetapi tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan. Mereka selalu memberikan alasan meskipun alasan itu tidak jelas.
· Gejala psikomotor: juga dinamakan gejala katatonik atau gangguan perbuatan.
b Gejala-gejala sekunder
· Waham: pada penderita skizofrenia waham yang terjadi tidka logis sama sekali dan sangat bizar. Tetapi penderita tidak menginsafi semua ini untuk dia wahamini adalah suatu fakta yang tidak dapat diubah oleh siapapun. Sebaliknya dia tidak mengubah sikapnya yang bertentangan. Umpama penderita mengaku seorang raja tetapi dia bermain-main dengan ludahnya sendiri. Mayer –Gross membagi waham menjadi 2 yaitu waham primer dan waham sekunder. Waham primer terjadi tanpa adanya suatu penyebab apapun dari luar, timbul secara tidak logis. Waham sekunder timbul secara logis dapat diikuti dan merupakan cara bagi penderita skizofrenia untuk menerangkan gejal-gejala skizofrenia lainnya.
· Halusinasi: halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran dan hal ini merupakan suatu gejala yang hampir tidak dijumpai pada keadaan lain. Halusinasi yang sering terjadi adalah halusinasi pendengaran (dalam bentuk suara manusia, bunyi barang dan siulan) kadang bisa muncul halusinasi penciuman, halusinasi citarasa dan halusinasi singgungan.
d. Jenis Skizofrenia
a Skizofrenia simplex: sering timbul pertama kali pada pubertas, gejal utama adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses pikir susah ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini timbulnya perlahan-lahan sekali.
b Jenis hebefrenik: permulaanya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan proses pikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terjadi, waham dan halusinasi banyak sekali.
c Jenis katatonik: timbul pertama kali anta usia 15-30 tahun, dan biasanya akut dan didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonikatau stupor katatonik. Pada stupor katatonik penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali terhadap lingkunggannya dan emosinya sangat dangkal. Pada gaduh gelisah katatonik terdapat hiperaktivitas motorik, tetapi tidak disertai gangguan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari luar.
d Jenis paranoid: perjalanan penyakit ini agak konstan. Gejala-gejal yang mencolok adalah waham primer disertai waham sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti didapatkan kelainan proses berpikir, gangguan afek, emosi dan kemauan. Jenis ini dimulai pada usia 30 tahun. Permulaannya bisa subakut dan akut. Kepribadian penderita sebelum sakit adalah kepribadian yang digolongkan skizoid.
e Episoda skizofrenia akut: gejala skizofrenia muncul mendadak sekali dan penderita seperti mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini mungkin timbul perasaan seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, seakan-akan memiliki arti yang khusus baginya.
f Skizofrenia residual ialah keadaan skizofrenia dengan gejal-gejala primernya, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul setelah beberapa kali serangan skizofrenia.
g Jenis skizo afektif: disamping gejala-gejala skizofrenia terdapat menonjol bersamaan juga gejala-gejala depresi atau gejala-gejala mania menonjol. Jenis ini cenderung menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul serangan lagi.
2. HALUSINASI
a. Definisi Halusinasi
Gangguan persepsi sensori adalah merupakan ketidakmampuan individu dalam mengidentifikasi dan menginterprestasi stimulus sesuai dengan informasi yang di terima melalui panca indra (Modul RSMM, 2007 )
Halusinasi adalah penerapan tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indera seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan sadar/bangun, dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik (Maramis, 2005)
Maramis membagi jenis-jemnis halusinasi:
1. Halusinasi penglihatan (visual, optik): tak berbentuk (sinar, kilatan atau pula cahaya) atau berbentuk (orang, binatang, atau barang lain yang di kenalnya), berwarna atau tidak.
2. Halusinasi pendengaran (auditif, akustik) : suara manusia, hewan,atau mesin, barang, kejadian alamiah dan musik
3. Halusinasi pencium (olfaktorik) : mencium sesuatu bau.
4. Halusinasi pengecap (gustatorik) : merasa tau mengecapo sesuatu
5. Halusinasi peraba (taktil) : merasa di raba, di sentuh, ditiup, disinari, atau seperti ada ulat bergerak di bawah kulitnya.
6. Halusinasi kinestetik : merasa badannya bergerak dalam sebyuah ruang, atau anggota badannya bergerak
7. Halusinasi viseral : perasaan tertentu timbul didalam tubuhnya
8. Halusinasi hipnagogik : tedapat adakalanya pada seorang yang normal, tepat sebelum tertidur persepsi sensorik bekerja salah.
9. Halusinasi hiopnopompik : seperti pada no 8, tetapi terjadi tepat sebelum terbangun sama sekali dari tidurnya. Di samping itu ada pula pengalaman halusinasinatorik dalam impian yang normal.
10. Halusinasi histerik : timbul pada nerosahisterik karena konflik emosional
Halusinasi penglihatan agak jarang pada skizofrenia, lebih sering pada psikosa akut yang berhubungan dengan sindroma otak organik. Bila terdapat, maka biasanya pada stadium permulaan, misalnya penderita melihat cahaya yang berwarna atau mata orang yang menakutkan.
b. Etiologi
Persepsi dapat terganggu oleh gangguan otak karena kerusakan otajk, keracunan, obat halusinogenik. Halusinasi dapat di sebabkan karena psikosa atau oleh pengaruh lingkungan sosial budaya (Maramis, 2005)
c. Tanda dan gejala
a. Halusinasi penglihatan
§ Data obyektif :
- Menunjuk–nunjuk kearah tertentu
- Ketakutan dengan sesuatu yang tidak jelas
§ Data subyektif
- Klien merasa melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartoon, melihat hantu atau monster
b. Halusinasi pendengaran
1. Data obyektif
- Bicara atau tertawa sendiri
- Marah-marah tanpa sebab
- Menyedengkan telinga kearah tertentu
- Menutup telinga
2. Data subyektif
- Klien mendengar suara-suara atau kegaduhan
- Klien mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
- Klien mendengar suara yang menyuruh sesuatu yang berbahaya
d. Proses terjadinya masalah
Proses tejadinya halusinasi ada tiga yaitu :
1. Fase comforting
Ansietas sedang,halsinasi menyenangkan. Karakteistik : klien mengalami perasan mendalam seperti ansietas, rasa bersalah, takut dan berfokus pada pikiran menyenangkan untuk meredakan ansietas. Prilaku klien : tersenyum atau tidak sesuai.
2. Fase condemning
Ansietas berat, halusinasi menjadi menjijikan. Karakteristik : klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsi.
3. Fase controling
Ansietas berat, pengalaman sensori menjadi berkuasa. Karakteristik: pengalaman sensori menjadi mengancam jika mengikui perintah halusinasi.
e. Faktor predisposisi
1. Faktor genetik
Skizofrenia di turunkan melalui kromosom tertentu. Gangguan orientasi realita umumnya di temukan pada klien skizofrenia. Dan akan lebih tinggi jika kedua orang tua menderita.
2. Faktor perkembangan
Akan mengalami hambatan jika interpersonal terganggu, maka mengalami stres dan kecemasan.
3. Faktor biokimia
Faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan jiwa maka dengan adnya stres yang berlebihan maka dalam tubuh seseorang akan menghasilkan suatu zat yang bersifat halusinogenik.
4. Faktor psikologi
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis, peran ganda atau peran yang bertentangan dapat menimbulkan kecemasan berat yang berakhir dengan menginginkan terhadap kenyataan.
5. Faktor biologis
Stuktur otak yang abnormal ditemukan pada pasien dengan orientai realitas di temukan atrofi otak, pemdesaran ventrikel, perubahan besar dan bentuk sel kortikel.
6. Faktor neurology
Di tentukan bahwa klien dengan skizofrenia terjadi penurunan volume dan fungsi otak yang abnormal
7. Study neurotransmiter
Skizofrenia diduga di sebabkan oleh adanya ketidakseimbangan neurotransmiter tidak seimbang dengan kkadar serotinin
f. Faktor presipitasi
1. Sosial kultural : faktor dimasyarakat dapat membuat seseorang disingkirkan dan kesepian terhadap lingkungan tempat tinggalnya.
2. Berlebihnya proses informasi pada sistem syaraf yang menerima dan memproses informasi di hipothalamus dan frontal otak
3. Mekanisme penghantar listrik di syaraf di otak terganggu.
4. Gejala-gejala pemicu seperti kondisi kesehatan lingkungan, sikap dan prilaku.
5. Stres lingkungan : respon neurologis maladaptif
- penuh kritik
- kehilangan harga diri
- gangguan hubungan interpersonal
- tekanan ekonomi
g. Akibat
Resiko tinggi prilaku kekerasan terhadap diri sendiri orang lain dan lingkungan.
h. Rentang respon
Halusinasi merupakan salah satu respon mal adaptip individu yang berada pada rentang respon neurobiologi (Stuart, 2001).
- Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis
Pengobatan harus secepat mungkin dilakukan kerena keadaan psikotis yang lama akan menimbulkan kemungkinan yang lebih besar bagi penderita mengalami kemunduran mental. Terapis jarang melihat penderita sebagai penderita yang tidak dapat disembuhkan lagi atau sebagai mahluk yang aneh dan inferior. Bila sudah diadakan kontak makan dilakukan bimbingan tentang hal-hal yang praktis. Peran keluarga sangat besar dalam pengobatan ini.
a. Farmakoterapi
Obat-obat yang diberikan adalah Neroleptika pada penderita skizofrenia menahun, pada penderita skizofrenia paronoid diberikan Trifluoperazin, waham dan halusinasi dihilangkan dengan Fenotiazin. Setelah gejala ini hilang makan pengobatan dilanjutkan dan dipertahankan beberapa bulan lagi. Untuk penggunaan Neroleptika pada penderita skizofrenia menahun diberikan dalam jangka waktu yang tidak ditentukan dengan dosis naik turun sesuai dengan keadaan klien.
b. Terapi elektro konvulsi (TEK)
Terapi ini dapat memperpendek serangan dan mempermudah kontak dengan penderita skizofrenia. Akan tetapi terapi ini tidak dapat mencegah serangan yang akan datang. TEK mudah dilakukan, lebih murah, tidak memerlukan tenaga yang khusus dan dapat dilakukan secara ambulant. TEK baik hasilnya pada jenis katatonik terutama stupor. Terhadap skizofrenia simplex hasilnya mengecewakan , kadang-kadang bisa menjadi lebih parah.
c. Terapi koma insulin
Meskipun pengobatan ini tidak khusus, bila diberikan pada permulaan penyakit hasilnya sangat memuaskan. Persentasi kesembuhan lebih besar dimulai dalam waktu 6 bulan penderita jatuh sakit. Terapi ini memberi haisl yang baik pada jenis skizofrenia katatonik dan paranoid.
d. Psikoterapi dan rehabilitasi
Psikoanalisa tidak akan memberikan hasil seperti yang diharapkan, bahkan ada yang berpendapat bahwa psikoanalisa dapat menambah isolasi dan otisme pada penderita skizofrenia. Yang membantu penderita adalah psikoterapi suportif individual dan kelompok serta bimbingan yang praktis dengan maksud mengembalikan penderita ke masyarakat. Terapi yang diberikan seperti terapi kerja, dalam terapi ini bisa dilakukan permainan dan latihan bersama, pemikiran falsafah bersama atau kesenian bebas seperti bermain musik dan melukis.
e. Labotomi prefrontal
Dapat dilakukan bila terapi lain secara intensif tidak berhasil dan bila penderita sangat mengganggu lingkungannya.
2. Penatalaksanaan keparawatan
a. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat dikelompokkan menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stresor, sumber koping, dan kemampuan koping yang di miliki klien.
Cara pengkajian lain berfokus pada 5 dimensi yaitu, fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual.
Isi pengkajian meliputi :
1. identitas klien
2. keluhan utama/alasan masuk
3. factor predisposisi
4. aspek fisik dan biologis
5. aspek psikososial
6. status mental
7. kebutuhan persiapan pulang
8. mekanisme koping
9. masalah psikososial dan lingkungan
10. pengetahuan
11. aspek medik
b. Masalah keperawatan
· Gangguan persepsi sensorik : halusinasi
· Resiko prilaku kekerasan : diri sendiri, orang lain dan lingkungan
· Isolasi sosial : menarik diri
· Kurang perawatan diri mandi dan berhias
· Pemeliharaan kesehatan tidak efektif
c. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri
2. Resiko prilaku kekerasan : diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi
3. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan HDR
4. Kurang perawatan diri mandi dan berhias berhubungan dengan menarik diri
5. Pemeliharaan kesehatan tidak efektif berhubungan dengan kurang perawatan diri
d. Rencana keperawatan
12. Masalah utama : gangguan persepsi sensorik : halusinasi
13. Tujuan umum : klien tidak menciderai diri, orang lain, dan lingkungan
14. Tujuan khusus :
a. Klien dapat membina saling percaya
b. Klien dapat mengenal halusinasinya
c. Klien dapat mengontrol halusinasinya
d. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya
e. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
15. Kriteria hasil
Ekspresi wajah bersahabat, menunjukan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang di hadapi.
§ TUK 1 : Klien dapat membina saling percaya
Intervensi :
- sapa klien dengan ramah
- memperkenalkan diri dengan sopan
- tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang di sukai klien
- jelaskan tujuan pertemuan
- jujur dan menepati janji
§ TUK 2 : Klien dapat mengenal halusinasinya
Intervensi :
- adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
- observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya, bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang ke kiri/ke kanan/ke depan dan seolah-olah ada teman bicara
- bantu klien mengenal halusinasinya
- diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi (marah/takut, senang, sedih) beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya.
§ TUK 3 : Klien dapat mengontrol halusinasinya
Intervensi :
- identifikasi bersama klien cara tindakan yang di lakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah/menghardik, menutup telinga,menyibukkan diri dan lain-lain
- diskusikan manfaat cara yang dilakukan klien jika bermanfaat beri pujian
- diskusikan cara baru untuk memutuskan dan mengontrol timbulnya halusinasi
- bantu klien membimbing dan melatih cara memutuskan halusinasi secara bertahap
§ TUK 4 : Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya
Intervensi :
- Anjurkan keluarga dapat membantu klien jika mengalami halusinasi
- Diskusikan denmgan keluarga (pada saat keluarga berkunjung atau kunjungan kerumah)
ü gajala halusinasi yang dialami klien
ü cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasinya
ü cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah : beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, dan bepergian bersama.
ü Beri informasi waktu folow up / kapan perlu / mendapat bantuan halusinasi tidak terkontrol dan resiko menciderai orang lain
§ TUK 5 : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
Intervensi :
- Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat
- Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya
- Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat.
- Diskusikan akibat berhanti minum obat tanpa konsultasi
- Bantu klien menggunakan obat denga prinsip 5 benar.
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORIK : HALUSINASI
| Tgl / jam | Diagnosa keperawatan | Perencanaan | |||
| Tujuan | Kriteria evaluasi | Intervansi | rasional | ||
| | Gangguan persepsi sensorik : halusinasi (lihat/dengar/raba/kecap/penghidu) | TUM : Klien tidak menciderai diri, orang lain, dan lingkungan TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya | 1. setelah tiga kali interaksi klien menunjukkan tanda-tanda percaya kepada perawat § Ekspresi wajah bersahabat § Menunjukkan rasa senang § Ada kontak mata § Mau berjabat tangan § Mau menyebutkan nama § Mau menjawab salam § Klien mau duduk berdampingan dengan perawat § Bersedia mengungkapkan masalah yang di hadapi | 1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi tyerapeutik : § Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal § Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan § Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang di sukai klien § Buat kontrak yang jelas § Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi § Tunjukkan sikap empati dan menerima apa adanya § Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien § Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien | § Memulai hubungan yang baik § Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk melancarkan hubungan selanjutnya |
| | | TUK 2 : Klien dapat mengenal halusinasinya | 2. setelah tiga kali interaksi klien dapat menyebutkan : § Isi § Waktu § Frekuensi § Situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi | 1. adakan kontak sering secara singkat sering dan bertahap 2. observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya : bicara dan tertawa tanpa stimulus dan memandang ke kiri/ ke kanan/ ke depan seola- olah ada teman bicara § tanyakan apakah klien mengalami sesuatu (dengar/lihat/penghidu/raba/kecap) § jika klien menjawab YA tanyaka apa yang sedang dialaminya § katakan bahwa perawat percaya klien mengalami hal tersebut, namun perawat sendiri tidak mengalaminya (dengan nada bersahabat tanpa menuduh atau menghakimi) § katakan baha ada klien lain yang juga mengalami hal yang sama § katakan bahwa perawat akan membantu klien jika klien tidak sedang berhalusinasi klasifikasi tentang adanya pengalaman halusinasi, diskusikan dengan klien :
3. bantu klien mengenal halusinasinya, jika menemukan klien sedang berhalusinasi 4. diskusikan dengan klien apa yang di rasakan jika terjadi halusinasi dan beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. 5. diskusikan dengan klien apa yang dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut 6. diskusikan tentang dampak yang dialami bila klien menikmati halusinasinya | 1. kontak sering dan singkat dapat membina hubungan saling percaya dan dapat memutus halusinasi 2. mengenal prilaku pada saat halusinasi timbul dan memudahkan perawat dalam intervensi 3. mengenal halusinasi memungkinkan klien untuk menghindari faktor pencetus timbulnya halusinasi 4. dengan mengetahui waktu, isi dan frekuensi munculknya halusinasi mempermudah tindakan yang dilakukan perawat. 5. untuk mengidentifikasi pengaruh halusinasi pada klien |
| | | TUK 3: Klien dapat mengontrol halusinasinya | 1. setelah 3 X interaksi klien menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya 2. setelah 3 X interaksi klien menyebutkan cara baru mengontrol halusinasinya 3. setelah 3x interaksi klien dapat memilih dan memperagakan cara mengatasi halusinasi 4. setelah 3x interaksi klien melaksanakan cara yang telah dipilih untuk mengendalikan halusinasinya 5. setelah 3x interaksi klien mengikuti terpai aktifitas kelompok | 1. identifikasi bersama klien cara atau tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi ( tidur, menghardik, menyibukkan diri, menutrup telinga, dll) 2. diskusikan cara yang digunakan klien § jika cara yang digunakan mal adaptip diskusikan kerugian cara tersebut § jika cara yang diganakan adaptip beri pujian 3. diskusikan cara baru untuk memutus / mengontrol timbulnya halusinasi § katakan pada diri sendiri baha ini tidak nyata § menemui orang lain untuk menceritakan tentang halusinasinya § membuat dan melaksanakan jadwal dan kegiatan sehari-hari yang telah di susun § meminta keluarga, teman, atau perawat menyapa jika sedang halusinasi 4. banti klien memilih cara yang sudah di anjurkan dan dilatih untuk mencobanya 5. berikan kesempatan untuk melakukan cara yang dipilih dan dilatih 6. pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan dilatih, jika berhasil beri pujian 7. anjurkan klien mengikuti TAK orientasi realita dan stimulasi persepsi | 1. Upaya untuk memutuskan halusinasi sehingga tidak berlanjut 2. memberikan alternatif pilihan bagi klien untuk mengontrol halusinasinya 3. memotifasi dapat meningkatkan keinginan klien untuk mencoba memilih salah satu cara mengendalikan halusinasi dan meningkatkan harga diri klien. 4. mencoba cara yang telah dipilih dapat meningkatkan harga diri klien 5. stimulasi persepsi dapat mengurangi perubahan interpretasi realita klien akibat halusinasi |
| | | TUK 4 : Klien mendapat dukungan dari keluarganya dalam mengontrol halusinasinya | 1. setelah 3x interaksi keluarga mampu menyebutkan pengertian tanda dan gejala, proses terjadinya halusinasi dan tindakan untu mengendalikan halusinasi | 1. buat kontrak dengan keluarga untuk pertemuan (waktu, tempat dan topik) 2. diskusikan dengan keluarga pada saat pertemmuan keluarga / kunjungan rumah : § pengertian halusinasi § tanda dan gejala halusinasi § proses halusinasi § cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi § obat-obat halusinasi § cara merawat anggota keluarganya yang halusinasi di rumah (beri kegiatan, jangan biarkan sendiri,makan bersama dan bepergian bersama, memantau obat-obatan dan cara pemberiannya untuk mengatasi halusinasi). § Beri informasi waktu kontrol ke Rumah Sakit dan bagaimana mencari bantuan jika halusinasi tidak dapat di atasi di Rumah | 1. untuk dapat bantuan keluarga mengontrol halusinasinya 2. upaya mengetahui pengetahuan keluarga dan meningkatkan kemampuan pengetahuan tentang halusinasi |
| | | TUK 5 : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik. | 1. setelah 3x interaksi klien menyebutkan : § manfaat minum obat § kerugian tidak minum obat § nama, warna, dosis, efek terapi dan efek samping obat 2. setelah 3x interaksi klien mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar. 3. setelah 3x interaksi klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter |
| 1. dengan mengetahui dosis, manfaat, frekuensi obat diharapkan klien melaksanakan program pengobatan 2. program pengobatan dapat berjalan dengan sitruasi terencana 3. denmgan mengetahui prinsip penggunaan obat maka kemandirian klien dalam pengobatan dapat di tingkatkan secara bertahap. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar