........ kenapa saya membuat blok ini?? karena saya adalah mahasiswa keperawatan yang ingin berbagi pengetahuan dan ingin bertukar pikiran dengan semua para sahabat..semoga bermanfaat..amien...... ^_^
cerita nyata sebuah keajaiban yang mungkin tak bisa kita temukan jawabanya dengan tehnologi atau ilmu pasti...begini ceritanya....................
Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA.
Seorang ibu
muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana
layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya yg pertama yg baru
berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya
adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael
suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yg masih diperut ibunya
itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.
Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan,
terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael
dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu
buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen;
bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.
Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa
pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan
buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya
Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! "Mami,... aku
mau nyanyi buat adik kecil!" Ibunya kurang tanggap. "Mami, ....aku
pengen
nyanyi!" Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya.
"Mami, ....aku
kepengen nyanyi!"
Ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap
menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah
daerah terlarang bagi anak-anak.
Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan
Michael. Baik,
setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya.
Mumpung adiknya masih hidup! Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU.
Anak kecil dilarang masuk! Karen ragu-ragu. Tapi, suster.... suster tak mau
tahu; ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap tajam
suster itu, lalu katanya: "Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael
tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat
adiknya!" Suster terdiam menatap Michael dan berkata, "Tapi tidak
boleh lebih dari lima
menit!"
Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa
masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam
sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya...... lalu dari mulutnya yang
kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring ".....You are my
sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey...."
Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari
kakaknya. "You never know, dear, How much I love you. Please don't take my
sunshine away." Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru
melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus,....terus Michael! "Teruskan
sayang!" bisik ibunya...."The other night, dear, as I laid sleeping,
I dream, I held you in my hands....." dan......Sang adikpun meregang,
seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi
teratur........
"I'll always love you and make you happy, if you will only stay the
same......."
Sang adik kelihatan begitu tenang .... sangat tenang.
"Lagi sayang!" bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael
terus
bernyanyi dan.... adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai....... lalu
tertidur lelap.
Suster yg tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan
apa yg telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia
saksikan sendiri. Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah
diperbolehkan pulang. Para
tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yg menimpa pasien yg satu ini.
Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga
suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat
luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.
Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa
memang Kasih Ilahi yg menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahipun membutuhkan mulut
kecil si Michael untuk mengatakan "How much I love you". Dan ternyata
Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil seperti Michael
untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA
bila IA menghendaki terjadi.
*** ini cerita saia hari ini...bagaimana dengan anda?
Percaya satu hal Bahwa~~~~~~~~~~~~~~ Semua akan indah pada waktunya.............
hari ini saia mulai menganggur,,,bahkan bisa dibilang pengangguran kelas berat,,, karna...kalau jam segini harusnya orang sibuk ini itu, saia hanya duduk termenung di warung kecilku di sebelah rumah,,,,
saia awali pagi ini dengan bangun pagi jam 4 kemudian bantuin ibu nyiapin makanan yang akan diantar ke penjual tiap pagi ampe jam 5.10 saia berenti untuk menjalankan kewajiban pada Sang Pencipta yaitu sholat subuh.. kemudian saia antar makanan ke penjual langganan ibu kemudian pulang buka warung... setelah itu saia mulai jadi babu dirumah sendiri...qiqiqiqi(bersih2 rumah red.) ampe jam 8 mandi lalu jaga warung...........dan mmmmmmelamun..qiqiqi bingung mau ngapain... tiba tiba saia ingat lau saia punya blog yang sudah lama saia tinggalkan mulai inilah awali bercerita......dan menulis ria...
hari ini saia mau nulis apa ya????
###@@@##@##@@###
,,~~~~~@_@~~~~~~~~~~~~
berfikir,,berfikir,,berfikir,,,
~~~~~~~~~~~@?@~~~~~~~~~
ahaaa........
jadi ingat sebuah cerita nyata dariTennessee, USA. ada seorang ibu muda yang sedang mengandung bayinya yang kedua namanya ibu Karen. Karen memiliki seorang anak yang berusia 3 tahun namanya Michael dan saat karen melahirkan bayinya terjadi suatu masalah besar yang membuat keluarganya putus asa tapi sebuah keajaiban terjadi hanya karna sebuah nyanyian kecil dari seorang Michael kecil......... subhanallah......
this is the story...
baca dan resapilah....
_____________MUJIZAT NYANYIAN SEORANG KAKAK______________________________________________
Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA. Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya yg pertama yg baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yg masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.
Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan,
terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael
dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu
buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen;
bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.
Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa
pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan
buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya
Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus! "Mami,... aku
mau nyanyi buat adik kecil!" Ibunya kurang tanggap. "Mami, ....aku
pengen
nyanyi!" Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya.
"Mami, ....aku
kepengen nyanyi!"
Ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap
menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.
Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan
Michael. Baik,
setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya.
Mumpung adiknya masih hidup! Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU.
Anak kecil dilarang masuk! Karen ragu-ragu. Tapi, suster.... suster tak mau
tahu; ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap tajam
suster itu, lalu katanya: "Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael
tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat
adiknya!" Suster terdiam menatap Michael dan berkata, "Tapi tidak
boleh lebih dari lima
menit!"
Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa
masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam
sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya...... lalu dari mulutnya yang
kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring
".....You are my
sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey...."
Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari
kakaknya.
"You never know, dear, How much I love you. Please don't take my
sunshine away."
Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru
melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus,....terus Michael! "Teruskan
sayang!" bisik ibunya....
"The other night, dear, as I laid sleeping,
I dream, I held you in my hands....."
dan......Sang adikpun meregang,
seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur........ "I'll always love you and make you happy, if you will only stay the
same......."
Sang adik kelihatan begitu tenang .... sangat tenang.
"Lagi sayang!" bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael
terus bernyanyi dan.... adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai....... lalu
tertidur lelap.
Suster yg tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yg telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia
saksikan sendiri. Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah
diperbolehkan pulang. Para
tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yg menimpa pasien yg satu ini.
Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga
suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat
luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.
Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa
memang Kasih Ilahi yg menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahipun membutuhkan mulut
kecil si Michael untuk mengatakan "How much I love you". Dan ternyata
Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil seperti Michael
untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA
bila IA menghendaki terjadi.
itu cerita saia hari ini,,,,,,bagaimana dengan anda?
hemmmm... ngemeng ngemeng masalah insulin... minggu ini aku dapet tugas insulin buat jurnal...lumayan bikin pusing kepala... sedikit menguras tenaga gara gara kudu ganti judul Jurnal beberapa kali... saat kekompakan tak lagi ada saat itulah ku harus slalu kerja ekstra buat kelompok...BTw ya sudahlah yang penting ku bisa jalani....huft ko jadi curhat...yuck bahas insulin....Bagi diabetasi — sebutan bagi penderita diabetes mellitus– mendapat suntikan insulin bak “bencana”...weitz,,, yang merontokkan jiwa dan raga. katanya sich.. Karena, tubuh bergantung pada suntikan insulin sepanjang hidupnya. Bahkan, bagi sebagian besar diabetasi, suntikan insulin dianggap sebagai pertanda bahwa nyawa sudah di ujung badan.
Seperti dikemukakan dokter spesialis endokrinologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM), Ari Fahrial Syam, suntikan insulin selama ini memang diberikan sebagai pilihan terakhir dalam pengobatan diabetes, setelah diet maupun obat-obatan oral tak mampu lagi mengontrol kadar gula darah seorang diabetasi.
“Pengalaman menunjukkan suntikan insulin memang menolong mengontrol kadar gula darah seorang diabetasi dengan cepat,” kata dr Ari Fahrial dalam workshop tentang diabetes, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Namun, kadang banyak dokter tak menyadari jika gula darah diabetasi tak terkontrol dalam waktu lama akan menimbulkan komplikasi yang menyebabkan terjadinya gagal ginjal, kebutaan, stroke, jantung hingga gangguan pada sistem jaringan saraf. Ketakutan pasien akan penggunaan suntikan insulin juga membuat kondisi penyakitnya makin parah.
Karena itu, lanjut dr Ari Fahrial, pentingnya bagi para dokter untuk mempertimbangkan pemberian suntikan insulin lebih awal untuk pasien diabetes, untuk menekan terjadinya kasus komplikasi yang lebih parah.
“Dengan mempertahankan kadar glukosa darah senormal mungkin, kualitas hidup pasien diabetes melitus terbukti meningkat. Untuk itu, Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) setahun terakhir ini gencar mempromosikan “early insulinitation”. Karena pengalaman menunjukkan hal itu bermanfaat dalam mencapai target kadar glukosa darah yang diharapkan,” kata dr Ari Fahrial.
Terkait dengan hal itu, kata dr Ari Fahrial, Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) dan PB Perkeni saat ini tengah menggelar “PAPDI Road Show 2008″ di sejumlah kota-kota besar di Indonesia guna memberi “pencerahan” pada para dokter di daerah seputar informasi terkini tentang insulin dan diabetes melitus. Kegiatan tema ELITE (Eli Lilly Training for Excellence) didukung perusahaan farmasi, PT Eli Lilly Indonesia.
Hal senada dikemukakan dr Pradana Soewondo, SpPD-KEMD. Katanya, road show itu sangat penting, mengingat persentasi penderita diabetes yang menggunakan insulin sangat rendah di Indonesia. Beberapa faktor penyebabnya adalah persepsi pasien yang menganggap insulin sebagai obat sebelum kematian menjelang, mahalnya biaya, serta kurangnya keterampilan dokter sendiri.
“Karena itu, melalui road show ini, ada tiga hal penting yang harus dipahami dokter untuk menerapkan insulin pada pasiennya, yaitu tepat waktu, tepat pasien, dan tepat jenis. Penggunaan insulin yang tepat dapat mengurangi terjadinya komplikasi,” ujarnya.
Intervensi Dini
Dr Fahrial menjelaskan, diabetes mellitus (DM) atau yang dikenal dengan sebutan penyakit kencing manis merupakan suatu sindrom klinis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah, serta mengakibatkan komplikasi pada organ tubuh lain seperti jantung, otak, tungkai bawah, mata, ginjal serta sistem jaringan saraf.
Di antara sejumlah penyebab itu, angka kematian akibat diabetes yang utama adalah penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit pembuluh darah perifer. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa diabetes meningkatkan risiko angka kesakitan dan angka kematian akibat penyakit kardiovaskuler sebesar 2-3 kali lipat.
“Penelitian epidemiologi terkini menunjukkan kecenderungan peningkatan angka insiden maupun prevalensi DM tipe 2 di seluruh dunia. Di Indonesia, WHO memperkirakan kenaikan jumlah pasien dari 8,4 juta pada 2000 menjadi 21,3 juta pada 2030. Penelitian di daerah sub-urban Depok Jakarta pada 2001 memperlihatkan prevalensi diabetes sebesar 12,8 persen,” katanya.
Dijelaskan, tujuan pengelolaan diabetes secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes dengan mencegah terjadinya komplikasi. Ada empat pilar pengelolaan diabetes yaitu edukasi, terapi gizi medis, latihan jasmani serta intervensi farmakologis.
“Keempat pilar tersebut berjalan bersamaan demi optimalisasi pengelolaan diabetes. Insulin sebagai salah satu intervensi farmakologis memiliki peranan penting sebagai penunjang kehidupan bagi penyandang diabetes,” ujar dr Ari Fahrial.
Menurut kepustakaan di Barat, ia menambahkan, diperkirakan 27 persen penyandang diabetes tipe 2 menggunakan insulin. Persentase tersebut jauh lebih kecil di Indonesia. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya angka tersebut, yaitu persepsi pasien terhadap insulin yang salah, mahalnya biaya yang dikeluarkan, serta kurangnya keterampilan dokter itu sendiri.
“Secara ringkas terdapat tiga hal penting yang harus dipahami dokter untuk menerapkan insulin pada pasien-pasiennya, yaitu tepat waktu, tepat pasien dan tepat jenis.
Dijelaskan, pada penyandang diabetes tipe 1, sel beta pankreas tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah cukup, sehingga memerlukan insulin eksogen untuk kelangsungan hidupnya. Insulin diberikan sejak awal diagnosis DM tipe 1 ditegakkan.
Sebaliknya, penyandang DM tipe 2 untuk bertahan hidup pada awalnya tidak tergantung pada insulin eksogen. Hal itu disebabkan masih adanya produksi insulin dari dalam tubuh sendiri, meski jumlah atau kerjanya tidak mencukupi.
“Namun, dengan berjalannya waktu, sebagian individu dengan DM tipe 2 akan mengalami penurunan produksi insulin, sehingga pada akhirnya memerlukan insulin eksogen. Insulin dapat diberikan secara sendiri atau bersama-sama dengan obat-obatan yang telah diberikan sebelumnya,” tuturnya.
Karena itu, dr Ari Fahrial menilai, insulin relatif penting sebagai terapi utama bagi pasien-pasien tertentu. Beberapa kondisi yang membuat dokter perlu memberikan insulin kepada pasien, antara lain, untuk penurunan berat badan yang cepat, untuk pasien dengan kondisi hiperglikemia berat yang disertai ketosis (kadar gula darah yang tinggi disertai pembentukan benda keton).
Selain itu, insulin juga diberikan kepada pasien dengan kondisi ketoasidosis diabetik (kadar gula darah yang tinggi disertai dengan produksi keton dan peningkatan keasaman di dalam darah). Pasien yang gagal memakai kombinasi obat-obatan penurun gula darah dengan dosis hampir maksimal.
“Insulin juga penting untuk penyandang diabetes yang menderita stress berat akibatinfeksi sistemik, operasi besar dan serangan jantung, stroke. Begitupun untuk ibu yang selama masa kehamilan, penyakit diabetesnya tidak terkendali dengan perencanaan makan saja. Pada pasien dengan gangguan pada fungsi ginjal atau hati yang berat dan kontraindikasi atau alergi terhadap obat penurun gula darah,” paparnya. Dr Ari mengatakan, saat ini terdapat berbagai macam jenis insulin yang memiliki perbedaan dalam mula kerja, lama kerja serta kekerapan penyuntikannya. Beberapa contoh jenis insulin yang ada di pasaran saat ini, insulin kerja sangat cepat — mulai bekerja dalam beberapa menit setelah penyuntikan dengan lama kerja 4-5 jam.
Insulin kerja pendek mulai bekerja 30-60 menit setelah penyuntikan, dengan lama bekerja efektif 3-6 jam dan insulin kerja menengah yang bekerja cukup lama yaitu 2-4 jam setelah penyuntikan dengan lama kerja efektif 10-16 jam.
“Selain itu, ada insulin kerja panjang yaitu 6-10 jam setelah penyuntikan dengan lama kerja 18-24 jam. Dan insulin campuran antara short dan intermediate acting. Insulin jenis itu memiliki awitan yang cepat dan menengah dengan puncak kerja yang ganda,” katanya.
Menurut dr Ari, pemberian insulin eksogen diupayakan semaksimal mungkin menyerupai produksi insulin alamiah pada orang yang sehat. Pola produksi insulin dapat dibedakan dalam 2 jenis yaitu produksi insulin saat tidak makan (basal) dan produksi insulin sesudah makan (prandial).
“Pemilihan jenis-jenis insulin itu bertujuan menyerupai pola sekresi insulin alamiah sebagaimana orang sehat. Insulin tersebut dapat digunakan sendiri atau kombinasi baik bersama dengan obat penurun gula darah atau bersama jenis insulin yang berbeda,” ucapnya.
Tentang produk insulin, General Manager PT Eli Lilly Indonesia, Puspo Sumadi menjelaskan, sejak keberhasilan Frederick Banting, seorang ahli bedah dari Kanada yang dibantu Charles H Best, seorang mahasiswa Ilmu Faal pada 1921 berhasil membuat insulin dari ekstrak pankreas untuk meredakan gejala-gejala diabetes.
Beberapa tahun kemudian, teknologi makin berkembang dengan dihasilkannya produk insulin baru melalui rekayasa genetika dengan mengganti asam amino pada struktur insulin. Struktur baru itu menyebabkan perubahan pada karakteristik absorsinya yang disebut insulin analog.
“Sekarang ini boleh dibilang insulin sudah lebih baik dan bahan-bahannya juga dijamin halal karena tidak lagi menggunakan pankreas hewan melainkan bahan tumbuhan melalui rekayasa genetika,” kata Puspo Sumadi menegaskan. (Tri Wahyuni)...
tu tadi sedikit pembahasan sedikit..semoga bermanfaat dan semoga seminar besuk berjalan lancar..amien...
ASI bermanfaat bukan hanya untuk bayi saja, tetapi juga untuk ibu, keluarga, dan untuk Negara.
Manfaat ASI untuk bayi
Nutrien (zat gizi) yang sesuai untuk Bayi
Lemak
Sumber kaloori utama dalam ASI adalah lemak. Sekitar 50 kalori ASI berasal dari lemak. Kadar lemak dalam ASI antara 3,5- 4,5 .Walaupun kadar lemak dalam ASI tinggi, tetapi mudah diserap oleh bayi karena trigliserida dalam ASI lebih dulu dipecah menjadi asam lemak dan gliserol oleh enzim lipase yang terdapat dalam ASI.Menurut penelitian Osborn membuktikan bahwa bayi yang tidak mendapatkan ASI lebih banyak menderita penyakit jantung koroner pada usia muda. Diperkirakan bahwa pada masa bayi diperlukan kolesterol pada kadar tertentu untuk merangsang pembentukan enzim protektif yang membuat metabolisme kolesteropl menjadi efektif pada usia dewasa.
ASI juga mengandung asam lemak esensial: asam linoleat (omega 6) dn asam linolenat (Omega3). Disebut esensial karena tubuh manusia tidak dapat membentuk kedua asam ini dan harus diperoleh dari konsumsi makanan.
Karbohidrat
Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa, yang kadarnya paling tinggi disbanding susu mamalia lain(7 g ).Laktosa mudah diurai menjadi glukosa dan galaktosa dengan bantuan enzim lactase yang sudah ada dalam mukosa saluran pencernaan sejak lahir.Laktosa mempunyai manfaat lain, yaitu mempertinggi absorbsi kalsium dan merangsang pertumbuhan laktobasilus bifidus.
Protein
Protein dalam susu adalah kasein dan whey. Dalam ASI terdapat dua macam asam amino yang tidak terdapat dalam susu sapi yaitu sistin dan taurin. Sistin diperlukan untuk pertumbuhan somatic, sedangkan taurin untuk pertumbuhan otak.
Garam dan Mineral
ASI mengandung garam dan mineral yang rendah dibanding susu sapi.
ASI dan susu sapi mengandung zat besi dalam kadar yang terlalu tinggi, tetapi besi dalam ASI lebih mudah diserap dan lebih banyak (> dari 50 )
Seng diperlukan untuk tumbuh kembang , sistem imunitas dan mencegah penyakit –penyakit tertentu seperti akrodermatitis enteropatika (penyakit yang mengenai kulit sistem pencernaan dan dapat berakibat fatal). Bayi yang mendapat seng, sehingga terhindar dari penyakit ini.
Vitamin
ASI cukup mengandung vitamin yang diperlukan bayi. Vitamin K yang berfungsi sebagai katalisator pada proses pembekuan darah terdapat dalam ASI dengan jumlah yang cukupdan mudah diserap.
Dlam ASI juga banyak vitamin E, vitamin D.
Mengandung zat protektif
Bayin yang mendapat ASI lebih jarang menderita penyuakit, karena adanya zat protektif dalam ASI.
Laktobasilus bifidus
Laktobasilus bifidus berfungsi mengubah laktosa menjadi asam laktat dan asm asetat
Laktoferin
Laktoferin adalah protein yang berikatan dengan zat besi yang bermanfaat menghambat pertumbuhan kuman tertentu, yaitu Stafilokokus dan E.coli yang juga memerlukan zat besi untuk pertumbuhannya.
Lisozim
Lizosim adalah enzim yang dapat memecah dinding bakteri (bakteriosidal) dan antiinflamantori, bekerja bersama peroksida dan askorbat untuyk menyerang E.coli dan Salmonella.
Komplemen C3 dan 4
Mempunyai daya opsonik, anafilaktoksik, dan kemotaktik, yang bekerja bila diaktifkan oleh IgA dan IgE yang juga terdapat dalam ASI.
Faktor antistreptokokus
Yakni melindungi bayi terhadap infeksi kuman tersebut.
Antibodi
Anti bodi dalam ASI dapat bertahan didalam saluran pencernaan bayi karena tahan terhadap asam dan enzim proteolitik saluran perencanaan dan membuat lapisan pada mukosanya sehingga mencegah bakteri patogen Dan enterovirus masuk ke dalam mukosa usus.
Imunitas seluler
ASI mengandung sel-sel.Sebagian besar (90 ) sel tersebut berupa kmakrofag yang berfungsi membunuh dan memfagositosis mikroorganisme, membentuk C3 dan C4, lisozim dan laktoferin. Sisanya (10 ) terdiri limfosit Bdan T.
Tidak menimbulkan alergi
ASI tidak menimbulkan alergi yakni dengan pemberian protein asing yang ditunda sampai umur 6 bulan akan mengurangi kemungkinan alergi ini.
Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan.
Waktu menyusu kulit bayi akan menempel pada kulit ibu.
Interaksi yang timbul waktu menyusui antara ibu dan bayi akan menimbulkan rasa aman bagi bayi. Perasaan aman ini penting untuk meniuimbulkan dasar kepercayaan pada bayi (basic sense of trust), yaitu dengan mulai dapat mempercayai orang lain maka akan timbul rasa percaya diri.
Menyebabkan pertumbuhan yang baik
Bayi yang mendapatkan ASI mempunyai kenaikan berat badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah periode perinatal baik, dan mengurangi kemungkinan obesitas.
Mengurangi kejadian karies dentis
Kadar selenium yang tinggi dalam ASI akan mencegah karies dentis.
Mengurangi kejadian malaklusi
Bahwa salah satu penyebab maloklusi rahang adalah kebiasaan yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan botol dan dot.
Dalam kehidupan yang semakin kompleks dewasa ini, orang selalu dituntut untuk senantiasa menciptakan dan mencapai keserasian serta kebahagiaan hidup bersama. Dalam hubungan dengan pencapaian keserasian dan kebahagiaan hidup bersama, sumber daya manusia yang berkualitas baik akan senantiasa berusaha untuk mencapai keberhasilan seoptimal mungkin dan meningkatkan produktivitasnya. Perawat merupakan satu jenis profesi yang dewasa ini banyak dibutuhkan. Oleh karena itu, organisasi tempat para perawat bekerja senantiasa mengusahakan peningkatan kualitas profesionalisme mereka. Tugas pokok seorang perawat adalah merawat pasien untuk mempercepat proses penyembuhan. Seorang perawat, karena pekerjaannya yang dinamis, perlu memiliki kondisi tubuh yang baik, sehat, dan mempunyai energi yang cukup. Kondisi tubuh yang kurang menguntungkan akan berakibat seorang perawat mudah patah semangat bilamana saat bekerja ia mengalami kelelahan fisik, kelelahan emosional, dan kelelahan mental. Pekerjaan seorang perawat sangatlah berat. Dari satu sisi, seorang perawat harus menjalankan tugas yang menyangkut kelangsungan hidup pasien yang dirawatnya seperti pada pasien cedera kepala.
Di sisi lain, keadaan psikologis perawat sendiri juga harus tetap terjaga. Kondisi seperti inilah yang dapat menimbulkan rasa tertekan pada perawat, sehingga ia mudah sekali mengalami stres. Stes merupakan ketegangan mental yang mengganggu kondisi emosional, proses berpikir, dan kondisi fisik seseorang (Davis, 1996). Stres yang berlebihan akan berakibat buruk terhadap individu untuk berhubungan dengan lingkungannya secara normal. Akibatnya kinerja mereka menjadi buruk dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap organisasi di mana mereka bekerja.
IMPLEMENTASI CLINICAL GOVERNANCE :
PENGEMBANGAN INDIKATOR KLINIK CEDERA KEPALA
DI INSTALASI GAWAT DARURAT
PENDAHULUAN
Trauma kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian pada kasus-kasus kecelakaan lalu lintas. Di Inggris misalnya, setiap tahun sekitar 100.000 kunjungan pasien ke rumah sakit berkaitan dengan trauma kepala yang 20% di antaranya terpaksa memerlukan rawat inap.Meskipun dalam kenyataannya sebagian besar trauma kepala bersifat ringan dan tidak memerlukan perawatan khusus, pada kelompokv trauma kepala berat tidak jarang berakhir dengan kematian atau kecacatan. Di RS Panti Nugroho Pakem Yogyakarta insidensi cedera kepala di instalasi gawat darurat (IGD) dalam triwulan I tahun 2005 cukup tinggi yaitu menempati urutan ke 5 dari seluruh kunjungan ke IGD. Di rawat inap kasus cedera kepala bahkan menempati urutan ke 2 dari 10 besar penyakit di RS Panti Nugroho. Dari seluruh kasus cedera kepala tersebut sekitar 17,8% terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit rujukan yang lebih tinggi. Dari seluruh kasus cedera kepala, angka kematian mencapai 2.7% pada Triwulan I tahun 2005. Perubahan paradigma pelayanan kesehatan menuju “Clinical governance†mengisyaratkan bahwa setiap rumah sakit di samping harus lebih akuntabel dan berorientasi pada pasien juga perlu senantiasa mengupayakan peningkatan mutu dan profesionalisme secara berkesinambungan.
Dalam konteks “clinical governance†maka penanganan Pasien dengan cedera kepala selain harus mempertimbangkan ketepatan waktu serta akurasi penegakan diagnosis juga harus diikuti dengan penatalaksanaan yang akurat dan didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang valid. Salah satu komponen utama clinical gover - Implementasi Clinical Governance Implementasi Clinical Governancenance yang relevan untuk diterapkan dalam penatalaksanaan cedera kepala adalah menajemen risiko klinik. Melalui manajemen risiko klinik ini morbiditas dan mortalitas penderita cedera kepala diharapkan dapat diminimalkan sehingga tercapai outcome pelayanan klinik yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan konsep manajemen risiko klinik dalam upaya meminimalkan risiko akibat penatalaksanaan medik pada penderita cedera kepala di RS Panti Nugroho.
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan rancangan studi observasional dengan cara mengamati penerapan konsep manajemen risiko klinik pada penderita cedera kepala di IGD RS Panti Nugroho, Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan secara prospektif dengan mengamati semua pasien cedera kepala yang masuk di IGD RS Panti Nugroho, mengidentifikasi variabel-variabel yang berpotensi meningkatkan risiko bagi pasien serta menerapkan indikator klinik berupa waktu tunggu dan kecepatan penanganan pasien. Selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap outcome yang terjadi pasca tindakan medik. Subjek penelitian adalah pasien IGD yang menjalani prosedur klinik kasus cedera kepala selama periode penelitian dari bulan Mei sampai Juli 2005 di IGD RS Panti Nugroho, Yogyakarta, Jalan Kaliurang Km. 17, Sleman, Yogyakarta. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik subjek (identitas, umur, jenis kelamin, jenis dan keparahan cedera kepala, dan tindakan yang sudah dilakukan sebelum tiba di rumah sakit), hingga kematian dan rujukan cedera kepala selama kurun waktu penelitian. Sumber data berasal dari catatan medis
pasien cedera kepala dalam masa observasi di IGD RS Panti Nugroho, Yogyakarta. Variabel tergatung adalah morbiditas, mortalitas dan angka rujukan sedangkan variable bebas adalah waktu tunggu pada skala triase cedera kepala yang dikembangkan berdasar wait-ing time dari The Australian College for Emeregency Medicine (ACEM).
Kriteria diagnosis klinis cedera kepala berdasarkan penilaian tingkat kesadaran Glascow Coma Score (GCS). Indikator klinik IGD RS Panti Nugroho, Yogyakarta adalah waktu tunggu pasien cedera kepala yang dikembangkan dari area 1 (waiting time) indicator klinik ACEM adalah jumlah pasien cedera kepala pada skala triase yang sesuai standar waktu ( dari saat tiba sampai mulai mendapatkan upaya klinik), nomor kode , kode warna, pada kasus cedera kepala dibagi jumlah total pasien dalam katagori yang sama pada skala triase di IGD RS Panti Nugroho, Yogyakarta.Jalannya peneletian penyusunan Indikator klinik waktu tunggu pasien cedera kepala di IGD RS Panti Nugroho, Yogyakarta:
Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam dlakukan dengan Direktur RS, Ketua Tim Pengendali Mutu, Ketua Komite Medik, Kepala Bidang Rawat Jalan dan IGD dan Koordinator IGD RS Panti Nugroho, Yogyakarta, dalam rangka imlementasi clinical governance melalui pendekatan manajemen risiko klinik yaitu pengembangan indikator klink waktu tunggu pada pasien cedera kepala di IGD RS Panti Nugroho, Yogyakarta.
Konsultasi Ahli
Analisa konsultasi ahli dilakukan dengan dokter spesialis bedah syaraf sebagai konsulen cedera kepala dalam rangka prosedur penatalaksanaan pasien cedera kepala di IGD RS Panti Nugroho, Yogyakarta.
Serial Diskusi
Serial diskusi dilakukan setiap minggu dengan topik sesuai evaluasi telah menghasilkan pengembangan alat baru, standar atauprosedur waktu tunggu pasien IGD, skala triase pasien pedera kepala, koreksi rekam medis IGD, alur pasien cedera kepala di IGDRS Panti Nugroho, Yogyakarta.
Staff Meeting IGD
Pertemuan sebagai media komunikasi dalam rangka sosialisasi, dessimenasi informasi, diskusi, serta pengambilan keputusan terhadap dalam pelaksanaan rencana kerja IGD.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
HASIL PENELITIAN
Karakteristik Subjek
Subjek penelitian terdiri dari 74 penderita cedera kepala terdiri dari cedera kepala ringan (76%), cedera kepala sedang (15%) dan cedera kepala berat (9%) dengan rata-rata umur 29,60 tahun. Dalam penelitian ini persentase laki-laki penderita cedera kepala (58%) lebih besar daripada permpuan (42%). Tampak dalam Tabel 1 bahwa pasien yang
mengalami cedera kepala sebagian besar lulus SMU (37%) disusul oleh SLP (12%) serta TK dan SD masing-masing 7%. Status pekerjaan terdiri dari PNS, karyawan swasta, wiraswasta dan lain-lain (pelajar/mahasiswa, ibu rumah tangga). Sebagian besar subyek (77%) terdiri dari pelajar dan mahasiwa serta ibu rumah tangga, (16%) karyawan swasta, (5%) wiraswasta atau pengusaha, dan (1%) PNS.
Dari 74 pasien – pasien cedera kepala sebagian besar berasal dari kabupaten Sleman (62%), sedangkan yang berasal dari luar Kabupaten Sleman, Yogyakarta relatif sedikit (7%), dan dari luar provinsi 7%. Karakteristik subyek pada cedera kepala Karakteristik pasien (n=74) :
Rata-rata Umur (tahun) : 29.60
Jenis Kelamin
Laki-laki : 43 (58%)
Perempuan : 31 (42%)
Pendidikan :
TK : 5 ( 7%)
SD : 5 ( 7%)
SLTP : 9 (12%)
SLTA : 27 (37%)
PT : 1 ( 1%)
Lain-lain : 27 (37%)
Pekerjaan :
PNS : 1 ( 1%)
Karyawan Swasta : 12 (16%)
Wiraswasta : 4 ( 5%)
Lain-lain : 57 (77%)
Alamat :
Kecamatan Pakem : 18 (24%)
Luar Pakem dalam Kabupaten Sleman : 46 (62%)
Luar Sleman dalam Provinsi DIY : 5 ( 7%)
Luar DIY : 5 ( 7%)
Kecelakaan kendaraan bermotor : 68 (92%)
Jatuh (Pohon, Meja, Tempat tidur) : 3 ( 4%)
Lain-lain (Ruda paksa) : 3 ( 4%)
Jenis Luka
Luka Robek : 31 (41%)
Luka Lecet : 27 (37%)
Lain-lain : 17 (23%)
Penurunan CGS
Berat : 7 ( 9%)
Sedang : 11 (15%)
Ringan : 56 (76%)
Mekanisme cedera diidentifikasi pada penelitian ini terdiri dari kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh (dari pohon, eternit, tempat tidur) dan lain-lain (dipukul, penganiayaan). Dari 74 kasus cedera kepala yang diikutsertakan dalam penelitian, sebagian besar (92%) karena kecelakaan kendaraan bermotor, disusul jatuh (3%) dan lain-lain 4%. Hasil observasi pasien cedera kepala menunjukkan bahwa luka eksternal (scalp) yang diidentifikasi yaitu luka robek (vulnus laceratum) (41%), luka lecet (vulnus excoriatum) (37%) dan tanpa luka (23%). Tampak dalam Tabel 1 bahwa 30% cedera kepala ringan justru mengalami luka robek sementara pada cedera kepala sedang hanya 4%.
Pada penelitian ini, diagnosis klinis berdasar penurunan kesadaran (GCS) sesuai ICD X terdistribusi cedera kepala ringan (9%), sedang (15%), berat 76%.
Pengembangan Indikator Klinik dan Pengukuran Waktu Tunggu Cedera kepala
Pengembangan Alat Ukur Waktu Tunggu Pasien Cedera Kepala
Pengembangan alat ukur waktu tunggu menjadi hal penting karena memudahkan dokumentasi pada observasi pasien cedera kepala di IGD RS Panti Nugroho, Yogyakarta. Alat ukur waktu tunggu dalam penelitian ini dikembangkan melalui evaluasi dalam serial diskusi, tampak pada alat ukur waktu tunggu meliputi beberapa komponen yang terintegrasi dalam satu alat terdirib dari:
Jam digital
Tempat stiker triase
Alat pencatat rekam medis
Hasil Pengukuran Waktu Tunggu Pasien Cedera Kepala
Seperti tampak pada Tabel 2, hasil pengukuran rata-rata waktu tunggu cedera kepala ringan 3,1 menit (target 15 menit). Hasil pengukuran rata-rata waktu tunggu pasien cedera kepala sedang 3.3 menit (target 10 menit). Hasil pengukuran rata-rata waktu tunggu pasien cedera kepala berat 0,7 menit (target 5 menit).
Keterangan :
Jam Digital
Tempat Kode
Tempat MR
Rata-rata Waktu Tunggu pasien Cedera Kepala (menit) Hasil Std. Deviasi Std. IGD Std . ACEMN
Cedera Kepala :
Ringan 96%,
sedang 100%
berat 100%
Sementara standar yang ditetapkan pada cedera kepala ringan 80% sedang 80% dan berat 95%, tampak pada Tabel 3.
Nilai ambang Waktu Tunggu Pasien Cedera Kepala Hasil Standar IGD Standar ACEMN
Cedera Kepala Berat : 100%, 95%,7 (9%)
CederaKepala Sedang : 100%,80%,11 (16%)
Cedera Kepala Ringan : 96%, 80%, 56 (76%)
Aspek Manajemen Pengukuran Waktu Tunggu terhadap Penatalaksanaan Cedera Kepala
Hasil Penatalaksanaan Cedera Kepala Ringan
Hasil pengamatan selain waktu tunggu pada pasien cedera kepala ringan adalah rata-rata waktu penatalaksaan yaitu 83,7 menit dan rata-rata waktu observasi pasien di ruang transit sebelum dipulangkan yaitu 1.3 jam seperti tampak pada. Penatalaksanaan pasien Cedera Kepala Ringan Cedera :
Kepala Ringan : (n=56)
Rata-rata Waktu Tunggu Penatalaksanaan (menit) : 83.7 menit
Outcome Klinik dan Prosedur Penatalaksanaan Dipulangkan:29 (52%)
Rata-rata jam observasi (jam)
Observasi < 2jam : 15 (27%)
Observasi >2 jam :14 (25%)
Dirawat : 22 (39%)
< 24 jam :1 ( 2%)
24 jam – 48 jam : 8 (14%)
2 hari – 5 hari : 8 (14%)
> 5 hari : 5 ( 9%)
Dirujuk : 5 ( 9%)
Aspek lain yang dapat digambarkan adalah outcome klinik pasien cedera kepala ringan yaitu dipulangkan (39%) dcengan observasi < 2 jam (51%) dan observasi > 2 jam (49%). Selanjutnya untuk pasien yang dirawat (30%) dan dirujuk 7%.
Hasil Penatalaksanaan Cedera Kepala Sedang
Rata-rata waktu penatalaksaan pasien cedera kepala sedang yaitu 146.3 menit, sedangkan tindak lanjut pada cedera kepala sedang yang dirawat (91%), dan dirujuk (9%). Tabel 5. Penatalaksanaan pasien Cedera Kepala Sedang :
Cedera Kepala Sedang (n=11)
Rata-rata waktu tunggu penatalaksanaan (menit) : 146.3
Rata-rata hari perawatan (hari) :3.2
Outcome klinik dan Prosedur penatalaksanaan Dirawat :9 (82%)
Rata-rata hari perawatan (hari) : 3.2
< 24 jam : 2 (18%)
24 jam – 48 jam : 1 (9%)
2 hari – 5 hari : 4 (36%)
> 5 hari : 2 (18%)
Dirujuk : 2 (18%)
Diagnostik CTScan :
Observatif : 2 (18%)
Operatif : 0
Hampir separuh subjek (44%) menjalani perawatan selama 2 - 5 hari, sedangkan yang menjalani perawatan kurang dari 24 jam dan lebih dari 5 hari masing masing 18%. Hanya 1 (9%) yang menjalani perawatan 24 - 48 jam.
Hasil Penatalaksanaan Cedera Kepala Berat
Pada penelitian ini kasus cedera kepala berat 7 ( 9%) , selanjutnya pada Tabel tindak lanjut pada cedera kepala berat yang dirujuk 20%, dirawat 80%. Tampak dalam Tabel 5 di bawah ini kasus Kematian yaitu 4 (5%), dan lebih dari separuh Pasien cedera kepala berat akhirnya meninggal dunia. Kematian tidak ditemukan pasien dengan cedera kepala ringan maupun sedang. Penatalaksanaan pasien Cedera Kepala Berat :
Cedera Kepala Berat (n=7)
Rata-rata Waktu Tunggu Penatalaksanaan (menit) : 90.5
Outcome klinik dan prosedur penatalaksanaan Dirawat : 3 (43%)
< 24 jam : 1 (14%)
> 24 jam : 1 (14%)
2 – 5 hari : 1 (14%)
> 5 hari :0
Dirujuk : 2 (28%)
Observatif : 1 (14%)
Operatif : 1 (14%)
Meningggal : 2 (28%)
Meninggal < 24 jam : 1 (14%)
Meninggal > 24 jam : 1 (14%)
PEMBAHASAN
Karakteristik Subjek
Pada penelitian
Ewing Traumatic Brain injury (TBI) menjadi kasus paling sering menimbulkan morbiditas dan mortalitas terutama pada anak 0-6 tahun dengan cedera kepala sedang dan cedera kepala berat menunjukkan perubahan yang signifikan pada hasil CT Scan.
Plandsoen meneliti squelae sesudah 2 tahun cedera kepala pada anak 4 - 14 tahun sementara itu. Penelitian cedera kepala berdasar kelompok umur pada umumnya menitik beratkan pada orang tua dan anak kecil,
Pada periode initial assesment dan resusitasi, faktor usia berpengaruh terhadap kematian, pada laki-laki usia tua adalah lebih besar dibandingkan perempuan usia tua ( pada Injury Severity Score, ISS, rendah dan sedang).
Pada penelitian ini rata-rata usia penderita cedera kepala adalah 29,6 tahun dan sebagian besar karena kecelakaan lalu lintas (92%). Ini menggambarkan bahwa pada usia tersebut lisensi mengendarai sudah diberikan namun faktor disiplin berlalulintas yang belum baik. Hal lain menunjukkan bahwa risiko terjadinya cedera kepala berat terjadi pada usia yang lebih tua (51,3 tahun). Hasil ini menggambarkan kelompok umur berisiko (usia tua) cenderung mengalami cedera kepala berat karena kekurangan cadangan fisiologisnya (terutama bila jatuh dalam keadaan syok) dan terdapat penyakit penyerta. Hal ini menjadi latar belakang penelitian cedera kepala berdasar kelompok umur pada umumnya menitikberatkan pada orang tua dan anak kecil sebagai upaya menurunkan angka kematian dan kecacatan akibat cedera kepala. Pada periode initial assesment dan resusitasi, faktor usia berpengaruh terhadap kematian, pada laki-laki usia tua adalah lebih besar dibandingkan perempuan usia tua (pada Injury Severity Score,ISS, rendah dan sedang).
Hasil penelitian ini menunjukkan pada jenis kelamin laki-laki (58%) lebih banyak mengalami cedera kepala dibandingkan perempuan. Hal ini sesuai dengan teori di atas bahwa laki-laki mempunyai Injury Severity Score lebih tinggi apalagi pada usia tua. Efek pascacedera kepala berat melaporkan bahwa cedera kepala berat berpengaruh pada aspek kognitif. Hasil penelitian ini menggambarkan lulusan SLA (37%) paling banyak mengalami cedera kepala sementara lulusan PT justru tidak ada. Hal ini menunjukkan gejala sisa dan kecacatan pasca cedera kepala akan berpengaruh pada sebagian subjek karena tingginya insidensi pada kelompok pelajar. Status pekerjaan pelajar atau mahasiswa (77%) mendominasi pekerjaan pasien cedera kepala pada penelitian ini. Waktu dan aktivitas pekerjaan pelajar atau mahasiswa pada saat berangkat dan pulang kerja yang cenderung bersamaan meningkatkan kepadatatan lalu lintas kendararaan bermotor di jalan raya. Hal ini berpengaruh pada jenis luka robek atau lecet karena trauma tumpul sementara pada penembak ikan luka yang terjadi adalah luka tusuk atau tembus. Trauma kepala banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari, di seluruh dunia tiap 12 menit ada yang meninggal karena trauma dan lebih dari 60% diantaranya disebabkan oleh trauma kepala. Cedera kepala di Yogyakarta belum ada laporan angka kejadian yang pasti tetapi diperkirakan cukup tinggi karena kasus kecelakaan lalu lintas.
Penelitian ini memberikan data awal insidensi cedera kepala di kabupaten Sleman bahwa lebih dari separuh penderita cedera kepala di RS Panti Nugroho beralamat di kabupaten Sleman 64 (86%). Hal ini menggambarkan pengaruh pengembangan kota\ yang pesat di Sleman yaitu sarana jalan, pasar, rumahsakit, sarana pendidikan, pekerjaan
(pabrik-pabrik) berpengaruh terhadap bertambah padatnya lalu lintas kendaraan bermotor dan risiko terjadinya cedera kepala. Penelitian tentang mekanisme cedera kepala sangat beragam benturan frontal (bulls eye), samping (hematoma temporal), belakang, terlempar keluar, kecelakan lalu lintas bahkan Lopez meneliti cedera kepala oleh senjatan penembak ikan. Sementara itu Mock melaporkan di Ghana 73% cedera oleh karena kecelakaan kendaraan bermotor, pada penelitian ini mekanisme cedera yang paling banyak adalah kecelakaan kendaraan bermotor yaitu 64 (91,4%) kasus, jatuh 3 kasus, mekanisme yang lain 3 kasus. Ghaffar melaporkan kasus cedera di Pakistan karena kendaraan bermotor naik 47% seiring naiknya jumlah kendaraan yang teregistrasi 93% antara tahun 1985 dan 1994.
Greenwood menyatakan bahwa rata-rata GCS penderita cedera kepalan berat minimal 6.6, dalam penelitian ini GCS diidentifikasi sebagai bagian diagnosis klinik. Traumatic Brain Injury (TBI) menjadi kasus paling sering menimbulkan morbiditas dan mortalitas terutama pada anak 0-6 tahun dengan cedera kepala sedang dan cedera kepala berat menunjukkan perubahan yang signifikan pada hasil CT Scan. Pada penelitian ini CT Scan dilakukan pada pasien cedera kepala ringan 2 orang, cedera kepala sedang 3 orang dan cedera kepala berat 4 orang, menunjukkan kesan perdarahan otak ada 3 orang, selanjutnya dioperasi 2 orang dengan hasil keduanya hidup setelah menjalani operasi. Analisis gejala/tanda klinis pasien cedera kepala berdasar glascow coma score (GCS), sementara pemeriksaan CT Scan menjadi sarana diagnosis morfologik kasus cedera kepala untuk selanjutnya dilakukan tindakan operasi untuk menurunkan angka kematian.
Pengembangan Indikator Klinik dan Pengukuran Waktu Tunggu Cedera kepala
Pengembangan Alat Ukur Waktu Tunggu Pasien Cedera Kepala
Pada satu waktu ada tiga hal (triase, rekam medis, waktu tunggu) yang harus dapat dilakukan secara sistematis, integratif dan simultan saat pasien datang bersamaan /overload, sehingga pengembangan alat ukur waktu tunggu mendorong perubahan budaya dalam pelayanan penderita dengan pendekatan manajemen risiko kllinik. Penelitian waktu tunggu pada pelayanan klinik pada umumnya dilaksanakan dengan pengamatan satuan waktu pada hari, jam atau menit, sebagai contoh penelitian Wahjoeni waktu tunggu operasi pada tumor rongga mulut di instalasi bedah mulut RS Cipto Mangunkusumo rata-rata 23,4 hari. Pada penelitian ini satuan waktu adalah menit dengan jam digital sehingga akurasinya sampai dengan 1/ 10 detik.
Dwiprahasto mengemukakan, secara umum keberhasilan pelaksanaan clinical governance lebih ditekankan pada perubahan budaya dalam organisasi pelayanan kesehatan. Pengembangan alat ukur waktu tunggu yang terintegrasi menjawab
permasalahan kegagalan pencataan waktu dengan menggunakan jam digital yang terpasang di alat pencatatat RM. Proses pelaksanaan triase dapat berjalan karena secara tehnis dengan stiker kode warna dalam container di alat pencatat secara cepat dapat langsung ditempelkan sambil melaksanakan pencatatan di RM. Faktor penunjang lain dari hasil serial diskusi adalah koreksi terhadap rekam medis agar dapat mendokumentasikan data waktu tunggu pada setiap langkah penanganan penderita.
Thomson dalam penelitiannya menyatakan bahwa persepsi waktu tunggu lebih rendah dari yang diharapkan dan berhubungan positif dengan tingkat kepuasan pelanggan. dengan pengembangan alat ukur yang mendorong kinerja dengan waktu tunggu yang lebih singkat diharapkan manajemen risiko klinik serta kepuasan pelanggan menjadi lebih baik.
Hasil Pengukuran Waktu Tunggu Pasien Cedera Kepala
Hasil pengukuran rata-rata waktu tunggu cedera kepala ringan 3,1 menit (target 15 menit), hal ini terjadi karena diagnosis ditegakkan berdasar GCS sementara faktor penyerta dalam hal ini luka lecet/robek justru sangat berpengaruh saat awal pasien tiba di IGD. Pada penelitaian ini justru derajat luka yang besar (luka robek dan lecet) banyak terjadi terjadi pada cedera kepala ringan. Hasil pengukuran rata-rata waktu tunggu pasien cedera kepala sedang 3.3 menit (target 10 menit), justru lebih lama dari karena gejala/tanda penyertanya antara lain retrograde amnesia, muntah, namun justru sedikit mengalami luka yang menimbulkan perdarahan.
Hasil pengukuran rata-rata waktu tunggu pasien cedera kepala berat 0,7 menit (target 5 menit), beberapa faktor yang berpengaruh antara lain kondisi fisik pasien langsung membutuhkan tindakan life saving yaitu Airway, Breathing, Circulation (ABC) karena tidak sadar, henti napas, perdarahan hebat, sehingga mendapat prioritas dari petugas dilain pihak keluarga pasien biasanya panik, menangis, berteriak sehngga penanganan menjadi lebih cepat. Keputusan untuk mendampingi pasien dengan risiko klinik yang paling besar akan menjadi karakter petugas bila triase sudah menjadi budaya kerja pada unit IGD, sehingga waktu yang terbatas justru mendorong karakter yang sistematis, simultan dan integratif menjadi kekuatan baru dalam manajemen risiko klinik.
Triase sebagai cara pemilahan penderit berdasar kebutuhan terapi (jenis luka, tanda vital, mekanisme trauma) dan sumber daya yang tersedia, mempunyai kontribusi besar dalam waktu tunggu pasien terutama bila pasien dating bersamaan/overload.
Aspek Manajemen Pengukuran Waktu Tunggu terhadap Penatalaksanaan Cedera Kepala Cedera
Penatalaksanaan Cedera Kepala Ringan
Waktu tunggu pasien yang dipulangkan penanganan 68,2 menit. hal ini mengGambarkan bahwa penanganan pasien yang dipulangkan menjalani penanganan dan observasi selama lebih kurang satu jam. Pada umumnya pasien cedera kepala ringan hanya membutuhkan waktu tunggu untuk perawatan luka. Hasil ini bisa menjelaskan mengapa bedsite pada cedera kepala ringan justru lebih cepat dibandingkan cedera kepala sedang. Kasus cedera kepala ringan dan sedang pada umumnya tidak mengalami kematian namun menderita luka lecet ataupun robek pada saat melakukan tindakan penyelamatan sehingga tidak mengalami cedera berat yang berakibat fatal.
Cronan mengemukakan bahwa cedera kepala terbagi dua kategori yaitu cedera eksternal dan internal. Pada umumnya cedera kepala ringan hanya mengalami luka eksternal saja tanpa penurunanan kesadaran. Sehingga penatalaksanaan dilaksanakan berkaitan dengan penanganan luka robek/lecet.
Penatalaksanaan Cedera Kepala Sedang
Pemeriksaan CT Scan menjadi salah satu kunci dalam diagnosis morfologik pada kasus cedera kepala sedang untuk selanjutnya dilakukan tindakan operasi untuk menurunkan angka kematian. CT Scan dilakukan pada pasien cedera kepala ringan 2 orang, cedera kepala sedang 3 orang dan cedera kepala berat 4 orang. Hasil yang menunjukkan kesan perdarahan otak ada 3 orang, selanjutnya dioperasi 2 orang dengan hasil keduanya hidup setelah menjalani operasi.
Pada pasien yang dirawat waktu tunggu untuk penanganan 101.4 menit. Hal ini mengGambarkan bahwa penanganan pasien yang dipulangkan menjalani penanganan dan observasi selama lebih kurang 2 jam. Faktor yang berpengaruh pada pasien yang dirawat adalah perawatan luka, observasi gejala/tanda klinis cedera kepala serta persetujuan dirawat dari keluarga pasien.
Hasil pengukuran rata-rata waktu tunggu pasien cedera kepala sedang 3.3 menit (target 10 menit) dan pada cedera kepala ringan 3,1 menit (target 15 menit), hal ini terjadi karena diagnosis ditegakkan berdasar GCS sementara factor penyerta dalam hal ini luka lecet/robek justru sangat berpengaruh saat awal pasien tiba di IGD pada penelitaian ini justru derajat luka yang besar terjadi pada cedera kepala ringan.
Plandsoen dalam penelitian cedera kepala sedang dengan fraktur selama 2 tahun terhadap 2 kelompok anak usia 4-14 tahun, menunjukkan bahwa masih ada gejala sisa yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Hasil ini menunjukkan disamping kriteria penurunan kesadaran tanda fraktur pada cedera kepala menjadi faktor yang harus mendapat perhatian berkaitan dengan gejala sisa pasca trauma.
Penatalaksanaan Cedera Kepala Berat
Kunci manajemen kasus pada cedera berat adalah pada waktu tunggu ABC sehingga cedera sekunder dapat dikurangi. Tindak lanjut pada pasien cedera kepala berat rujukan bersifat diagnostik karena RS Panti Nugroho belum memiliki CT Scan dan fasilitas ruang perawatan ICU yang memadai (1 ruang) namun demikian persentase rujukan kasus 13% lebih rendah dibanding rujukan triwulan I 17,8% hal ini dapat disebabkan oleh prosedur penatalaksanaan yang sudah terintegrasi dengan triase sehingga prognosis pasien dapat diketahui serta ditindaklanjuti dengan observasi di ruang perawatan.
Dari kasus cedera kepala berat 9% dalam penelitian ini, lebih dari separuh pasien cedera kepala berat akhirnya meninggal dunia. Kematian tidak ditemukan pasien dengan cedera kepala ringan maupun sedang. Kasus Kematian yaitu 4 (5%) dapat dibedakan berdasar prosesnya yaitu:
Pasien yang meninggal dalam perjalanan 2kasus.
Pasien dalam kriteria Do Not Ressusitation (DNR) 4 kasus, 2 kasus meninggal beberapa saat di IGD dan 2 kasus meninggal setelah diobservasi di ruang perawatan. Kriteria pasien DNR yaitu apnea, dilatasi pupil dengan penatalaksanaan ABC yaitu pemasangan Endo Tracheal Tube (ETT) ternyata muncul permasalahan etika yaitu sampai kapan pasien harus mendapatkan resisutasi.
Dalam penelitian ini 1 kasus dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) dengan respirator dan 1 kasus di ruang perawatan biasa. Pelaksanaan pertolongan berdasar prinsip ABC yang langsung disertai tindakan resusitasi dikenal dengan nama initial assessment dalam arti sempit. Sedangkan initial assessment dalam arti luas meliputi tahap persiapan pertolongan sampai pasien siap untuk tindakan definitive atau dirujuk.
Siddharthan dalam penelitiannya, waktu tunggu rata-rata di Instalasi gawat darurat 3 jam 6 menit, dalam penelitian ini waktu tunggu rata – rata 2 jam 1 menit. Hasil ini relevan dengan waktu observasi yang dibutuhkan pada pasien yang dipulangkan 1-2 jam, dirawat 2 jam dan dirujuk 2-3 jam. Pada kasus rujukan juga dipengaruhi hasil pemeriksaan penunjang untuk tindakan operatif serta sarana pasca operasi. Ratna mengemukakan bahwa cedera kepala fatal terjadi lebih dari 30% kasus sebelum tiba di rumah sakit karena keseriusan cedera. Sebagian orang meninggal karena cedera kepala sekunder.
Hasil ini menunjukkan waktu tunggu untuk pasien yang meninggal belum mendapat upaya pra rumahsakit serta transportasi yang cepat dan baik. Padahal cedera sekunder justru terjadi pada periode beberapa menit/jam setelah cedera. Dalam hal ini peran serta masyarakat sangat besar, sehingga tindakan prevensi serta edukasi dalam kegawatdaruratan awam menjadi pilihan utama. Greenwood melaporkan dalam penelitiannya tentang efek manajemen kasus sesudah menderita cedera kepala berat untuk melaksanakan terapi rehabilitasi medik, ternyata dari 126 pasien berusia 16-60 tahun, 20 diantaranya harus menjalani terapi rehabilitasi medik dalam 2 tahun pascacedera kepala berat. Pada penelitian ini fokus outcome klinik masih pada kematian belum pada gejala sisa pasca penatalaksanaan cedera kepala berat.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pengukuran rata-rata waktu tunggu pasien cedera kepala berat 0,66 menit (standar < 5 menit) cedera kepala sedang 3,2 menit (standar < 10 menit), dan cedera kepala ringan 3,1 menit (standar <15 menit), telah memenuhi standar waktu tunggu ACEM dan IGD RS Panti Nugroho, Yogyakarta. Evaluasi terhadap pada 74 pasien cedera kepala yang dirawat 14 kasus (87%), pasien dirujuk 2 kasus (13%) serta kematian di IGD 4 kasus (5%) , menunjukkan adanya penurunan angka rujukan kasus dan angka kematian pada pasien yang ditindak lanjuti observatif dan operatif.
Pengembangan alat baru yang terintegrasi merupakan inovasi untuk memudahkan pengukuran waktu tunggu. Alat ukur yang baik menjadi bagian manajemen risiko, sehingga dapat dilaksanakan identifikasi risiko, analisa risiko serta risiko penatalaksanaan pada triase pada saatn terjadi overload pasien IGD. Ahirnya pengembangan indikator klinik waktu tunggu dapat meningkatkan kecepatan pelayanan serta mempengaruhi outcome klinik kasus cedera kepala di IGD RS Panti Nugroho, Yogyakarta.
Saran
Implementasi clinical governance dengan pendekatan manajemen risiko klinik melalui pengembangan indikator klinik waktu tunggu menggunakan alat pencatat waktu yang terintegrasi dan sistem manage care dapat diterapkan untuk semua kasus IGD RS Panti Nugroho, Yogyakarta. Perlu dikembangkan lebih lanjut indicator klinik IGD yaitu area 2 (audit) dan area 3 (Acut Myocard Infact), sebagai pengembangan good clinical governance sebagai langkah terwujudnya good hospital di RS Panti Nugroho, Yogyakarta.
Daftar pustaka
Thornhill, S., Teasdale, G.M., Murray, G.D., McEwen, J., Roy, C.W., Penny, K.I.. Disability In Young People And Adults One Year After Head Injury: Prospective Cohort study. BMJ. 2000; 320: 1631-5.
Dwiphrahasto, I. Clinical Governance. Seminar Ilmiah Perhimpunan Dokter Manajemen Medik Indonesia (PDMMI). 2003.
Ryan, Nikki; Hurst, Keith, Clinical Governance in Accident and Emergency Services, Intenational Journal of Health Care Quality Assurance, 1999: 267-71.
Australian Council on Health Care Standards (ACHS). Clinical Indicator-A Users Manual: Emergency Medicine Indicator. Sydney, NSW. 2000.
Dwiphrahasto. Kepemimpinan Klinik-Peran dan Tantangan Manajemen Rumah Sakit dalam Peningkatan Mutu pelayanan Kesehatan. Jurnal Manajemen pelayanan Kesehatan. 2004: 105-108.
Thomson. Effects of Actual Waiting Time, Perceived Waiting Time, Information Delivery, and Expressive Quality on Patient Satisfaction in Emergency Department. Journal of American College of Emergency Physicians. 1996:1-15.
Elly,N, dan Ratna,S. Prosedur Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.2000.