Asuhan keperawatan (Askep) gagl ginjal Kronik
1. Pengkajian
Anamnesa untuk menentukan adanya GGK dilakukan untuk menentukan berbagai tolak ukur terjadinya GGK dengan kata lain mengumpulkan tanda dan gejala klinis GGK yang meliputi berbagai sistem dalam tubuh.
Untuk menentukan GGK diperlukan berbagai data tentang riwayat penyakit pasien. Bila ada data yang menunjukan penurunan faal ginjal yang bertahap. Diagnosa tidaklah sulit. Pada pasien dengan GGK didapatkan keluhan-keluhan yang berbeda pada berbagai sistem dalam tubuh, diantaranya adalah:
· Sistem gastrointestinal: ditemukan keluhan anoreksia, nausea dan vomiting, foetor uremik (nafas berbau amonia), cegukan, gastritis erosif, ulkus peptik bahkan kolitis uremik.
· Kulit: kulit pasien akan terlihat pucat, gatal-gatal, terjadi ekimosis, terdapat bekas garukan akibat gatal-gatal.
· Sistem saraf dan otot: terdapat keluhan klien merasa pegal pada kakinya, rasa semutan dan seperti terbakar, ensefalopati metabolik (lemah, tidak bisa tidur, gangguan konsentrasi, tremor, asteriksis, mioklonus, kejang) dan miopati (kelemahan dan hipotrofi oto-otot terutama otot-otot ekstremitas proksimal).
· Sistem kardiovaskuler: akan ditemukan adanya kenaikan tekanan darah dari normalnya(hipertensi), bisa juga ditemukan nyeri dada dan sesak nafas, gangguan irama jantung (aritmia) dan terdapat edema.
· Sistem endokrin: bisa didapatkan keluhan gangguan seksual (libido,fertilisasi dan ereksi menurun) pada laki-laki dan pada perempuan ditemukan adanya gangguan menstruasi, gangguan ovulasi sampai amenore. Gangguan metbolisme glukosa, resisitensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Pada gagal ginjal yang lanjut (klirens kreatinin < 15 mL/menit), terjadi penurunan klirens metabolik insulin yang menyebabkan waktu paruh hormon aktif memanjang, gangguan metabolisme lemak dan gangguan metabolisme vitamin D.
· Pada pemeriksaan laboratorium bisa ditemukan penurunan eritropoetin, trombositopenia, fagositosis menurun, limfosit menurun, hiperfosfatemia, hiperkalemia, hipokalsemia dan asidosis metabolik.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah sebagai berikut:
1. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penangan b/d kurang paparan informasi
2. Kelebihan volume cairan b/d mekanisme pengaturan melemah
3. Kerusakan integritas kulit b/d perubahan sensasi (pruritus)
4. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan menyeluruh
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d tidak mampu dalam memasukkan makanan karena faktor biologi
6. Harga diri rendah situasional b/d perubahan peran sosial
Diagnosa KP yang muncul adalah sebagai berikut:
1. Hipertensi
2. Pericarditis
3. Anemia
4. Hiperkalemia
5. Osteodistrofi renal
6. Efusi pericarditis
7. Edema pulmonal
3. Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan untuk diagnosa keperawatan adalah sebagai berikut:
1. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penangan b/d kurang paparan informasi.
Tujuan: meningkatkan pengetahuan mengenal kondisi dan penanganan yang bersangkutan.
| Intervensi | Rasional |
| 1. kaji pemahaman mengenai penyebab gagal ginjal, konsekuensinya dan penanganannya. 2. jelaskan fungsi fungsi renal dan konsekuensi gagal ginjal sesuai dengan tingkat pemahaman dan kesiapan pasien untuk belajar. 3. bantu pasien untuk mengidentifikasi tentang cara-cara untuk memahami berbagai perubahan akibat penyakit dan penanganan yang mempengaruhi hidupnya. 4. sediakan informasi baik lisan maupun tertulis mengenai kondisi, medikasi dan perawatannya. 5. | 1. merupakan instruksi dasar untuk menjelaskan dan penyuluhan lebih lanjut. 2. pasien dapat belajar tentang gagal ginjal dan penanganan setelah mereka siap untuk menerima diagnosis dan konsekuensinya. 3. pasien dapat melihat bahwa kehidupannya tidak akan berubah akibat penyakitnya. 4. pasien memiliki informasi yang dapat digunakan untuk klarifikasi selanjutnya di rumah. 5. |
2. Kelebihan volume cairan b/d mekanisme pengaturan melemah
Tujuan: mempertahankan berat tubuh ideal tanpa ada kelebihan cairan.
| Intervensi | Rasional |
| 1. kaji status cairan: - timbang berat badan - keseimbangan antara masukan dan pengeluaran - turgor kulit dan adanya edema - distensi vena leher - tekanan darah, denyut dan irama nadi 2. batasi masukan cairan 3. identifikasi sumber potensial cairan - medikasi dan cairan yang digunakan untuk pengobatan oral dan intravena - makanan 4. jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan 5. bantu pasien dalam menghadapi ketidaknyamanan akibat pembatasan cairan 6. tingkatkan dan dorong oral higiene dengan sering | 1. pengkajian merupakan dasar dan data dasar berkelanjutan untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi. 2. pembatasan cairan yang masuk dapat menentukan berat tubuh ideal, pengeluaran urine dan respon terhadap terapi. 3. sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi. 4. pemahaman meningkatkan kerja sama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan 5. kenyamanan pasien meningkatkan kepatuhan terhadap pembatasan cairan 6. higiene oral dapat mempertahankan kelembaban mukosa mulut |
3. Kerusakan integritas kulit b/d perubahan sensasi (pruritus)
Tujuan: tidak terjadi kerusakan integritas kulit
| Intervensi | Rasional |
| 1. inspeksi kulit terhadap perubahan warna , turgor, vaskuler, kemerahan, ekimosis dan purpura. 2. pantau cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa 3. inspeksi area terhadap edema 4. ubah posisi dengan sering (2 jam sekali), gerakan pasien perlahan berikan bantalan pada bagian yang menonjol 5. selidiki keluhan gatal-gatal 6. anjurkan klien menggunakan pakaian longgar | 1. menandakan area sirkulasi buruk/kerusakan dapat menimbulkan infeksi. 2. mendeteksi adanya gangguan hidrasi dan dehidrasi berlebih yang mempengaruhi sirkulasi. 3. jaringan yang edema cenderung lebih mudah rusak/robek. 4. menurunkan tekanan pada edema dan memperbaiki sirkulasi ke daerah yang pengalami penekanan. 5. gatal-gatal dapat merangsang terjadi kerusakan pada kulit (kulit menjadai lecet akibat digaruk) 6. mencegah terjadinya iritasi langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit 7. |
4. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan menyeluruh
Tujuan: berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat di toleransi
| Intervensi | Rasional |
| 1. kaji respon yang menimbulkan kelerihan; anemia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, retensi produk sampah dan dehidrasi. 2. tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat ditolerir 3. anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat 4. anjurkan untuk beristirahat setelah dialisis | 1. menyediakan informasi tentang indikasi tingkat kelebihan 2. meningkatkan aktivitas ringan/sedang dan memperbaiki harga diri 3. mendorong aktivitas dan latihan dalam batas yang dapat ditolerir dan istirahat yang adekuat 4. istirahat yang adekuat dianjurkan setelah dialisis yang bagi banyak pasien sangat melelahkan. |
5. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d tidak mampu dalam memasukkan makanan karena faktor biologi
Tujuan: mempertahankan nutrisi yang adekuat
| Intervensi | Rasional |
| 1. kaki status nutrisi: perubahann berat badan, pengukuran antropometrik, nilai laboratorium (elektrolit serum, BUN, kretinin, protein, transferin, dan kadar besi) 2. kaji pola diet nutrisi pasien: riwayat diet, makanan kesukaan, hitung kalori. 3. kaji faktor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi: anoreksia, mual, muntah, diet yang tidak menyenangkan bagi pasien, depresi, kurang memahami membatasi diet, stomatitis. 4. tingkatkan masukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi: telor, prodak susu dan daging. | 1. menyediakan data dasar untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi 2. pola diet dahulu dan Sekarang dapat dipertimbangkan dalam menyusun menĂº 3. menyediakan informasi mengenai faktor lain ynag dapat diubah atau di hilangkan untuk meningkatkan masukan diet 4. protein lengkap diberikan untuk mancapai keseimbangan nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan penyembuhan |
6. Harga diri rendah situasional b/d perubahan peran social
Tujuan: memperbaiki konsep diri
| Intervensi | Rasional |
| 1. kaji respon dan reaksi pasien dan keluarga terhadap penyakit dan penanganannya 2. kaji hubungan antara pasien dengan anggota keluarga terdekat 3. kaji pola koping pasien dan anggota keluarga 4. ciptakan diskusi tentang perubahan yang terjadi akibat penyakit dan penanganan: perubahan peran, gaya hidup, pekerjaan, seksual dan ketergantungan pada tim tenaga kesehatan. 5. gali cara alternatif untuk ekspresi seksual lain selain hubungan seksual 6. diskusikan peran memberi dan menerima cinta, kehangatan dan kemesraaan | 1. menyediakan dat tentang masalah pada pasien dan keluarga dalam menghadapi perubahan dalam hidup 2. penguatan dan hubungan terhadap pasien diidentifikasi 3. pola koping yang telah efektif dimasa lalu mungkin potensial dekstruktif ketika memandang pembatasan yang ditetapkan akibat penyakit dan penanganan 4. pasien dapat mengidentifikasi masalah dan langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapinya 5. bentuk alternatif-alternatif ekspresi seksual dapat diterima 6. seksualitas mempunyai arti yang berbeda bagi tiap individu tergantung pada tahap maturitasnya |
4. Intervansi untuk diagnosa KP yang muncul adalah sebagai berikut:
Tujuan: pasien tidak menunjukkan komplikasi
1. Hipertensi
| Intervansi | Rasional |
| 1. pantau dan catat tekanan darah sesuai indikasi 2. berikan medikasi anti hipertansi sesuai instruksi 3. dorong kepatuhan dalam terapi pembatasan diet dan cairan 4. ajarkan pasien untuk melaporkan tanda kelebihan cairan, perubahan penglihatan, sakit kepala, edema, atau kejang | 1. pengukuran tekanan darah meyediakan data objektif untuk pemantauan. Peningkatan tekanan darah merupakan indikasi adanya ketidakpatuhan 2. medikasi anti hipertensi berperan penting dalam penanganan hipertensi yang berhubunagan dengan GGK 3. kepatuhan terhadap pembatasan diet/ cairan dan jadwal dialisis mencegah penumpukan dan natrium 4. merupakan indikasi dari pengendalian hipertensi yang tidak adekut dan perlunya untuk mengubah terapi |
2. Pericarditis, efusi perikarditis
| Intervansi | Rasional |
| 1. kaki pasien terhadap adanya demam, nyeri dada dan fuction rub perikardial (tanda-tanda perikarditis) dan jira ada beri tahu dokter 2. jika pasien mengalami pericarditis kaki factor berikut: a. denyut paradoksikal > 10mmHg b. hipotensi berat c. lemah atau hilangnya denyut perifer d. perubahan tingkat kesadaran e. penonjolan vena leher 3. persiapkan pasien untuk USG jantung guna mendukung diagnosis adanya tamponade dan efusi 4. jika terjadi tamponade jantung persiapkan pasien untuk perikardiosintesis darurat f. | 1. sekitar 30-50% pasien gagal ginjal mengalami pericarditis akibat uremia: demam; nyeri dada, dan fuction rub perikardial merupakan tanda klasik 2. efusi perikardial umumnya merupakan akibat pericarditis yang fatal. Tanda efusi mencakup denyup paradoksikal dan tanda syok akibat kompresi jantung oleh efusi yang luas. Tamponade jantung terjadi jika pasien secara hemodinamik sangat terganggu. 3. USG jantung berguna untuk menggambarkan efusi perikardikal dan tamponade jantung 4. tamponade jantung merupakan kondisi yang mengancam jiwa, disertai laju yang mortalitas yang tinggi. Aspirasi segera cairan dari rongga perikardikal |
3. anemia
| Intervensi | Rasional |
| 1. pantau hitung sel darah merah, dan kadar hematokrit sesuai indikasi 2. berikan medikasi sesuai resep mencakup suplemen besi dan asam folat, epogen dan multivitamin 3. menghindari pengambilan spesimen darah yang tidak perlu 4. instruksikan pasien bagaimana mencegah perdarahan: menghindari olah raga yang berat, dan anjurkan pemakaian sikat gigi yang lembut 5. berikan terapi komponen darah sesuai indikasi | 1. merupakan pengkajian untuk mengetahuai tingkat keparahan anemia 2. sel darah merah membutuhkan besi, asam folat dan vitamin untuk produksinya. Epogen menstumulasi sumsum tulang untuk memproduksi sel-sel darah merah 3. anemia dicetuskan oleh pengambilan sejumlah spesimen 4. perdarahan disetiap tempat di tubuh memperburuk anemia 5. terapi komponen darah diperluakan jika pasien symtomatik |
4. hiperkalemia
| Intervansi | Rasional |
| 1. pantau kadar kalium serum dan beri tahu dokter jika nilainya melebihi 5,5 mEq/L 2. kaji pasien akan adanya kelemahan otot, diare, perubahan EKG (gelombang T memuncak dan QRS melebar) | 1. Heperkalemia menyebabkan kerusakan dan potensial menyebabkan perubahan dalam tubuh yang mengancam jiwa 2. tanda dan gejala kardiovaskuler merupakan karakteristik hiperkalemia |
5. osteodistrofi renal
| Intervansi | Rasional |
| 1. Berikan medikasi berikut sesuai resep: pengikat fosfat, suplemen kalsium dan suplemen vitamin D 2. pantau nilai laboratorium serum sesusai indikasi (kadar kalsium, kalsium fosfor, aluminum) dan laporkan temuan abnormal pada dokter 3. bantu pasien dalam program latihan | 1. gagal ginjal kronis menyebabkan sejumlah fisiologis yang mempengaruhi metabolisme kalsium, fosfat, dan vitamin D 2. hiperfosfatemia, hipokalsemia dan akumulasi aluminum berlebih umumnya pada gagal ginjal kronis 3. demineralisasi tulang meningkat akibat imobilitas |
DAFTAR PUSTAKA
Arjatmo, dkk, 2001, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi II, FKUI, Jakarta.
Brunner & suddart, 2001, Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, EGC, Jakarta.
Doenges, Emarilyn, et al, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta.
Mansjoer Arif, dkk, 2000, Kapita Selekta, Jilid I, Media Aesculapicus, Jakarta.
Santoso Budi, 2005, Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006, Prima Medika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar